Selasa, Mei 12, 2009

Rangkuman Artikel Budidaya Ayam

Inilah Kumpulan Artikel tentang Ternak Ayam yang saya rangkum menjadi satu postingan. Artikel berikut ini saya sadur dari 5 s/d 8 website / blog sahabat kita yang lain (maaf, saya tidak mencantumkan link sumber artikel ini karena pada tujuan awal saya merangkum artikel ini adalah semata-mata untuk pengetahuan pribadi, tetapi karena dirasa penting dan layak untuk diketahui oleh sahabat semua, maka saya coba sisipkan di Kategori Beternak Ayam blog sederhana ini.

Artikel ini pernah saya cetak di dalam format Ms. Word setebal 27 halaman kertas Quarto/letter. Nah, jika ada sahabat yang berminat ingin mencetaknya juga, silahkan copy paste aza artikel yang ada dalam postingan ini (Maaf, untuk saat sekarang ini saya belum meng-upload file asli Ms.Word Siap Print-nya).

Selanjutnya, Saya akan senantiasa menambahkan artikel-artikel (tentang beternak ayam) yang dipandang layak dan berharga lainnya kedalam kategori ini (di lain waktu dan kesempatan). Semoga artikel ini bermanfaat bagi sahabat semua yang sedang mencari informasi dimaksud. Amin.

Maaf yaa, tulisannya belum sempat saya beresin (masih acak-acakan); kedepan akan saya beresin dech...


BUDIDAYA AYAM PETELUR (Gallus sp.)

1. SEJARAH SINGKAT Ayam petelur adalah ayam-ayam betina dewasa yang dipelihara khusus untuk diambil telurnya. Asal mula ayam unggas adalah berasal dari ayam hutan dan itik liar yang ditangkap dan dipelihara serta dapat bertelur cukup banyak. Tahun demi tahun ayam hutan dari wilayah dunia diseleksi secara ketat oleh para pakar. Arah seleksi ditujukan pada produksi yang banyak, karena ayam hutan tadi dapat diambil telur dan dagingnya maka arah dari produksi yang banyak dalam seleksi tadi mulai spesifik. Ayam yang terseleksi untuk tujuan produksi daging dikenal dengan ayam broiler, sedangkan untuk produksi telur dikenal dengan ayam petelur. Selain itu, seleksi juga diarahkan pada warna kulit telur hingga kemudian dikenal ayam petelur putih dan ayam petelur cokelat. Persilangan dan seleksi itu dilakukan cukup lama hingga menghasilkan ayam petelur seperti yang ada sekarang ini. Dalam setiap kali persilangan, sifat jelek dibuang dan sifat baik dipertahankan (“terus dimurnikan”). Inilah yang kemudian dikenal dengan ayam petelur unggul. Menginjak awal tahun 1900-an, ayam liar itu tetap pada tempatnya akrab dengan pola kehidupan masyarakat di pedesaan. Memasuki periode 1940-an, orang mulai mengenal ayam lain selain ayam liar itu. Dari sini, orang mulai membedakan antara ayam orang Belanda (Bangsa Belanda saat itu menjajah Indonesia) dengan ayam liar di Indonesia. Ayam liar ini kemudian dinamakan ayam lokal yang kemudian disebut ayam kampung karena keberadaan ayam itu memang di pedesaan. Sementara ayam orang Belanda disebut dengan ayam luar negeri yang kemudian lebih akrab dengan sebutan ayam negeri (kala itu masih merupakan ayam negeri galur murni). Ayam semacam ini masih bisa dijumpai di tahun 1950-an yang dipelihara oleh beberapa orang penggemar ayam. Hingga akhir periode 1980-an, orang Indonesia tidak banyak mengenal klasifikasi ayam. Ketika itu, sifat ayam dianggap seperti ayam kampung saja, bila telurnya enak dimakan maka dagingnya juga enak dimakan. Namun, pendapat itu ternyata tidak benar, ayam negeri/ayam ras ini ternyata bertelur banyak tetapi tidak enak dagingnya. Ayam yang pertama masuk dan mulai diternakkan pada periode ini adalah ayam ras petelur white leghorn yang kurus dan umumnya setelah habis masa produktifnya. Antipati orang terhadap daging ayam ras cukup lama hingga menjelang akhir periode 1990-an. Ketika itu mulai merebak peternakan ayam broiler yang memang khusus untuk daging, sementara ayam petelur dwiguna/ayam petelur cokelat mulai menjamur pula. Disinilah masyarakat mulai sadar bahwa ayam ras mempunyai klasifikasi sebagai petelur handal dan pedaging yang enak. Mulai terjadi pula persaingan tajam antara telur dan daging ayam ras dengan telur dan daging ayam kampung. Sementara itu telur ayam ras cokelat mulai diatas angin, sedangkan telur ayam kampung mulai terpuruk pada penggunaan resep makanan tradisional saja. Persaingan inilah menandakan maraknya peternakan ayam petelur. Ayam kampung memang bertelur dan dagingnya dapat dimakan, tetapi tidak dapat diklasifikasikan sebagai ayam dwiguna secara komersial-unggul. Penyebabnya, dasar genetis antara ayam kampung dan ayam ras petelur dwiguna ini memang berbeda jauh. Ayam kampung dengan kemampuan adaptasi yang luar biasa baiknya. Sehingga ayam kampung dapat mengantisipasi perubahan iklim dengan baik dibandingkan ayam ras. Hanya kemampuan genetisnya yang membedakan produksi kedua ayam ini. Walaupun ayam ras itu juga berasal dari ayam liar di Asia dan Afrika. 2. SENTRA PETERNAKAN Ayam telah dikembangkan sangat pesat di setiapa negara. Sentra peternakan ayam petelur sudah dijumpai di seluruh pelosok Indonesia terutama ada di Pulau Jawa dan Sumatera, tetapi peternakan ayam telah menyebar di Asia dan Afrika serta sebagian Eropa. 3. J E N I S Jenis ayam petelur dibagi menjadi dua tipe: 1) Tipe Ayam Petelur Ringan Tipe ayam ini disebut dengan ayam petelur putih. Ayam petelur ringan ini mempunyai badan yang ramping/kurus-mungil/kecil dan mata bersinar. Bulunya berwarna putih bersih dan berjengger merah. Ayam ini berasal dari galur murni white leghorn. Ayam galur ini sulit dicari, tapi ayam petelur ringan komersial banyak dijual di Indonesia dengan berbagai nama. Setiap pembibit ayam petelur di Indonesia pasti memiliki dan menjual ayam petelur ringan (petelur putih) komersial ini. Ayam ini mampu bertelur lebih dari 260 telur per tahun produksi hen house. Sebagai petelur, ayam tipe ini memang khusus untuk bertelur saja sehingga semua kemampuan dirinya diarahkan pada kemampuan bertelur, karena dagingnya hanya sedikit. Ayam petelur ringan ini sensitif terhadap cuaca panas dan keributan, dan ayam ini mudah kaget dan bila kaget ayam ini produksinya akan cepat turun, begitu juga bila kepanasan. 2) Tipe Ayam Petelur Medium Bobot tubuh ayam ini cukup berat. Meskipun itu, beratnya masih berada di antara berat ayam petelur ringan dan ayam broiler. Oleh karena itu ayam ini disebut tipe ayam petelur medium. Tubuh ayam ini tidak kurus, tetapi juga tidak terlihat gemuk. Telurnya cukup banyak dan juga dapat menghasilkan daging yang banyak. Ayam ini disebut juga dengan ayam tipe dwiguna. Karena warnanya yang cokelat, maka ayam ini disebut dengan ayam petelur cokelat yang umumnya mempunyai warna bulu yang cokelat juga. Dipasaran orang mengatakan telur cokelat lebih disukai daripada telur putih, kalau dilihat dari warna kulitnya memang lebih menarik yang cokelat daripada yang putih, tapi dari segi gizi dan rasa relatif sama. Satu hal yang berbeda adalah harganya dipasaran, harga telur cokelat lebih mahal daripada telur putih. Hal ini dikarenakan telur cokelat lebih berat daripada telur putih dan produksinya telur cokelat lebih sedikit daripada telur putih. Selain itu daging dari ayam petelur medium akan lebih laku dijual sebagai ayam pedaging dengan rasa yang enak.

4. MANFAAT Ayam-ayam petelur unggul yang ada sangat baik dipakai sebagai plasma nutfah untuk menghasilkan bibit yang bermutu. Hasil kotoran dan limbah dari pemotongan ayam petelur merupakan hasil samping yang dapat diolah menjadi pupuk kandang, kompos atau sumber energi (biogas). Sedangkan seperti usus dan jeroan ayam dapat dijadikan sebagai pakan ternak unggas setelah dikeringkan. Selain itu ayam dimanfaatkan juga dalam upacara keagamaan. 5. PERSYARATAN LOKASI 1) Lokasi yang jauh dari keramaian/perumahan penduduk. 2) Lokasi mudah dijangkau dari pusat-pusat pemasaran. 3) Lokasi terpilih bersifat menetap, tidak berpindah-pindah. 6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA Sebelum usaha beternak dimulai, seorang peternak wajib memahami 3 (tiga) unsur produksi yaitu: manajemen (pengelolaan usaha peternakan), breeding (pembibitan) dan feeding (makanan ternak/pakan) 6.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan 1. Kandang Iklim kandang yang cocok untuk beternak ayam petelur meliputi persyaratan temperatur berkisar antara 32,2–35 derajat C, kelembaban berkisar antara 60–70%, penerangan dan atau pemanasan kandang sesuai dengan aturan yang ada, tata letak kandang agar mendapat sinar matahari pagi dan tidak melawan arah mata angin kencang serta sirkulasi udara yang baik, jangan membuat kandang dengan permukaan lahan yang berbukit karena menghalangi sirkulasi udara dan membahayakan aliran air permukaan bila turun hujan, sebaiknya kandang dibangun dengan sistem terbuka agar hembusan angin cukup memberikan kesegaran di dalam kandang. Untuk kontruksi kandang tidak harus dengan bahan yang mahal, yang penting kuat, bersih dan tahan lama. Selanjutnya perlengkapan kandang hendaknya disediakan selengkap mungkin seperti tempat pakan, tempat minum, tempat air, tempat ransum, tempat obat-obatan dan sistem alat penerangan. Bentuk-bentuk kandang berdasarkan sistemnya dibagi menjadi dua: a) Sistem kandang koloni, satu kandang untuk banyak ayam yang terdiri dari ribuan ekor ayam petelur; b) Sistem kandang individual, kandang ini lebih dikenal dengan sebutan cage. Ciri dari kandang ini adalah pengaruh individu di dalam kandang tersebut menjadi dominan karena satu kotak kandang untuk satu ekor ayam. Kandang sistem ini banyak digunakan dalam peternakan ayam petelur komersial. Jenis kandang berdasarkan lantainya dibagi menjadi tiga macam yaitu: 1) kandang dengan lantai liter, kandang ini dibuat dengan lantai yang dilapisi kulit padi, pesak/sekam padi dan kandang ini umumnya diterapkan pada kandang sistem koloni; 2) kandang dengan lantai kolong berlubang, lantai untuk sistem ini terdiri dari bantu atau kayu kaso dengan lubang-lubang diantaranya, yang nantinya untuk membuang tinja ayam dan langsung ke tempat penampungan; 3) kandang dengan lantai campuran liter dengan kolong berlubang, dengan perbandingan 40% luas lantai kandang untuk alas liter dan 60% luas lantai dengan kolong berlubang (terdiri dari 30% di kanan dan 30% di kiri). 2. Peralatan a. Litter (alas lantai) Alas lantai/litter harus dalam keadaan kering, maka tidak ada atap yang bocor dan air hujan tidak ada yang masuk walau angin kencang. Tebal litter setinggi 10 cm, bahan litter dipakai campuran dari kulit padi/sekam dengan sedikit kapur dan pasir secukupnya, atau hasil serutan kayu dengan panjang antara 3–5 cm untuk pengganti kulit padi/sekam.

b. Tempat bertelur Penyediaan tempat bertelur agar mudah mengambil telur dan kulit telur tidak kotor, dapat dibuatkan kotak ukuran 30 x 35 x 45 cm yang cukup untuk 4–5 ekor ayam. Kotak diletakkan dididing kandang dengan lebih tinggi dari tempat bertengger, penempatannya agar mudah pengambilan telur dari luar sehingga telur tidak pecah dan terinjak-injak serta dimakan. Dasar tempat bertelur dibuat miring dari kawat hingga telur langsung ke luar sarang setelah bertelur dan dibuat lubah yang lebih besar dari besar telur pada dasar sarang. c. Tempat bertengger Tempat bertengger untuk tempat istirahat/tidur, dibuat dekat dinding dan diusahakan kotoran jatuh ke lantai yang mudah dibersihkan dari luar. Dibuat tertutup agar terhindar dari angin dan letaknya lebih rendah dari tempat bertelur. d. Tempat makan, minum dan tempat grit Tempat makan dan minum harus tersedia cukup, bahannya dari bambu, almunium atau apa saja yang kuat dan tidak bocor juga tidak berkarat. Untuk tempat grit dengan kotak khusus 6.2. Peyiapan Bibit Ayam petelur yang akan dipelihara haruslah memenuhi syarat sebagai berikut, antara lain:

a) Ayam petelur harus sehat dan tidak cacat fisiknya. b) Pertumbuhan dan perkembangan normal. c) Ayam petelur berasal dari bibit yang diketahui keunggulannya. Ada beberapa pedoman teknis untuk memilih bibit/DOC (Day Old Chicken) /ayam umur sehari: a) Anak ayam (DOC ) berasal dari induk yang sehat.

b) Bulu tampak halus dan penuh serta baik pertumbuhannya . c) Tidak terdapat kecacatan pada tubuhnya. d) Anak ayam mempunyai nafsu makan yang baik. e) Ukuran badan normal, ukuran berat badan antara 35-40 gram. f) Tidak ada letakan tinja diduburnya.

1. Pemilihan Bibit dan Calon Induk

Penyiapan bibit ayam petelur yang berkreteria baik dalam hal ini tergantung sebagai berikut: a. Konversi Ransum Konversi ransum merupakan perabandingan antara ransum yang dihabiskan ayam dalam menghasilkan sejumlah telur. Keadaan ini sering disebut dengan ransum per kilogram telur. Ayam yang baik akan makan sejumlah ransum dan menghasilkan telur yang lebih banyak/lebih besar daripada sejumlah ransum yang dimakannya. Bila ayam itu makan terlalu banyak dan bertelur sedikit maka hal ini merupakan cermin buruk bagi ayam itu. Bila bibit ayam mempunyai konversi yang kecil maka bibit itu dapat dipilih, nilai konversi ini dikemukakan berikut ini pada berbagai bibit ayam dan juga dapat diketahui dari lembaran daging yang sering dibagikan pembibit kepada peternak dalam setiap promosi penjualan bibit ayamnya. b. Produksi Telur Produksi telur sudah tentu menjadi perhatian. Dipilih bibit yang dapat memproduksi telur banyak. Tetapi konversi ransum tetap utama sebab ayam yang produksi telurnya tinggi tetapi makannya banyak juga tidak menguntungkan. c. Prestasi bibit dilapangan/dipeternakan Apabila kedua hal diatas telah baik maka kemampuan ayam untuk bertelur hanya dalam sebatas kemampuan bibit itu. Contoh prestasi beberapa jenis bibit ayam petelur dapat dilihat pada data di bawah ini. o Babcock B-300 v: berbulu putih, type ringan, produksi telur(hen house) 270, ransum 1,82 kg/dosin telur. o Dekalb Xl-Link: berbulu putih, type ringan, produksi telur(hen house) 255-280, ransum 1,8-2,0 kg/dosin telur. o Hisex white: berbulu putih, type ringan, produksi telur(hen house) 288, ransum 1,89 gram/dosin telur. o H & W nick: berbulu putih, type ringan, produksi telur(hen house) 272, ransum 1,7-1,9 kg/dosin telur. o Hubbarb leghorn: berbulu putih, type ringan, produksi telur(hen house)260, ransum 1,8-1,86 kg/dosin telur. o Ross white: berbulu putih, type ringan, produksi telur(hen house) 275, ransum 1,9 kg/dosin telur. o Shaver S 288: berbulu putih, type ringan, produksi telur(hen house)280, ransum 1,7-1,9 kg/dosin telur. o Babcock B 380: berbulu cokelat, type Dwiguna, produksi telur(hen house) 260-275, ransum 1,9 kg/dosin telur. o Hisex brown: berbulu cokelat, type Dwiguna, produksi telur(hen house)272, ransum 1,98 kg/dosin telur. o Hubbarb golden cornet: berbulu cokelat, type Dwiguna, produksi telur(hen house) 260, ransum 1,24-1,3 kg/dosin telur. o Ross Brown: berbulu cokelat, type Dwiguna, produksi telur(hen house) 270, ransum 2,0 kg/dosin telur. o Shaver star cross 579: berbulu cokelat, type Dwiguna, produksi telur(hen house) 265, ransum 2,0-2,08 kg/dosin telur. o Warren sex sal link: berbulu cokelat, type Dwiguna, produksi telur(hen house) 280, ransum 2,04 kg/dosin telur.

6.3. Pemeliharaan

  1. Sanitasi dan Tindakan Preventif Kebersihan lingkungan kandang (sanitasi) pada areal peternakan merupakan usaha pencegahan penyakit yang paling murah, hanya dibutuhkan tenaga yang ulet/terampil saja. Tindakan preventif dengan memberikan vaksin pada ternak dengan merek dan dosis sesuai catatan pada label yang dari poultry shoup.
  2. Pemberian Pakan Untuk pemberian pakan ayam petelur ada 2 (dua) fase yaitu fase starter (umur 0-4 minggu) dan fase finisher (umur 4-6 minggu). a. Kualitas dan kuantitas pakan fase starter adalah sebagai berikut: o Kwalitas atau kandungan zat gizi pakan terdiri dari protein 22-24%, lemak 2,5%, serat kasar 4%, Kalsium (Ca) 1%, Phospor (P) 0,7-0,9%, ME 2800-3500 Kcal. o Kwantitas pakan terbagi/digolongkan enjadi 4 (empat) golongan yaitu minggu pertama (umur 1-7 hari) 17 gram/hari/ekor; minggu kedua (umur 8-14 hari) 43 gram/hari/ekor; minggu ke-3 (umur 15-21 hari) 66 gram/hari/ekor dan minggu ke-4 (umur 22-29 hari) 91 gram/hari/ekor. Jadi jumlah pakan yang dibutuhkan tiap ekor sampai pada umur 4 minggu sebesar 1.520 gram.

b. Kwalitas dan kwantitas pakan fase finisher adalah sebagai berikut: o Kwalitas atau kandungan zat gizi pakan terdiri dari protein 18,1-21,2%; lemak 2,5%; serat kasar 4,5%; kalsium (Ca) 1%; Phospor (P) 0,7-0,9% dan energi (ME) 2900-3400 Kcal. o Kwantitas pakan terbagi/digolongkan dalam empat golongan umur yaitu: minggu ke-5 (umur 30-36 hari) 111 gram/hari/ekor; minggu ke-6 (umut 37-43 hari) 129 gram/hari/ekor; minggu ke-7 (umur 44-50 hari) 146 gram/hari/ekor dan minggu ke-8 (umur 51-57 hari) 161 gram/hari/ekor. Jadi total jumlah pakan per ekor pada umur 30-57 hari adalah 3.829 gram.

  1. Pemberian minum disesuaikan dangan umur ayam, dalam hal ini dikelompokkan dalam 2 (dua) fase yaitu: a. Fase starter (umur 1-29 hari) kebutuhan air minum terbagi lagi pada masing-masing minggu, yaitu minggu ke-1 (1-7 hari) 1,8 lliter/hari/100 ekor; minggu ke-2 (8-14 hari) 3,1 liter/hari/100 ekor; minggu ke-3 (15-21 hari) 4,5 liter/hari/100 ekor dan minggu ke-4 (22-29 hari) 7,7 liter/hari/ekor. Jadi jumlah air minum yang dibutuhkan sampai umur 4 minggu adalah sebanyak 122,6 liter/100 ekor. Pemberian air minum pada hari pertama hendaknya diberi tambahan gula dan obat anti stress kedalam air minumnya. Banyaknya gula yang diberikan adalah 50 gram/liter air. b. Fase finisher (umur 30-57 hari), terkelompok dalam masing-masing minggu yaitu minggu ke-5 (30-36 hari) 9,5 lliter/hari/100 ekor; minggu ke-6 (37-43 hari) 10,9 liter/hari/100 ekor; minggu ke-7 (44-50 hari) 12,7 liter/hari/100 ekor dan minggu ke-8 (51-57 hari) 14,1 liter/hari/ekor. Jadi total air minum 30-57 hari sebanyak 333,4 liter/hari/ekor.
  2. Pemberian Vaksinasi dan Obat Vaksinasi merupakan salah satu cara pengendalian penyakit virus yang menular dengan cara menciptakan kekebalan tubuh. Pemberiannya secara teratur sangat penting untuk mencegah penyakit. Vaksin dibagi menjadi 2 macam yaitu: Vaksin aktif, adalah vaksin mengandung virus hidup. Kekebalan yang ditimbulkan lebih lama daripada dengan vaksin inaktif/pasif. Vaksin inaktif, adalah vaksin yang mengandung virus yang telah dilemahkan/dimatikan tanpa merubah struktur antigenic, hingga mampu membentuk zat kebal. Kekebalan yang ditimbulkan lebih pendek, keuntungannya disuntikan pada ayam yang diduga sakit. Macam-macam vaksin:

a) Vaksin NCD vrus Lasota buatan Drh Kuryna b) Vaksin NCD virus Komarov buatan Drh Kuryna (vaksin inaktif) c) Vaksin NCD HB-1/Pestos. d) Vaksin Cacar/pox, virus Diftose. e) Vaksin anti RCD Vaksin Lyomarex untuk Marek. Persyaratan dalam vaksinasi adalah: a) Ayam yang divaksinasi harus sehat. b) Dosis dan kemasan vaksin harus tepat. c) Sterilisasi alat-alat.

  1. Pemeliharaan Kandang Agar bangunan kandang dapat berguna secara efektif, maka bangunan kandang perlu dipelihara secara baik yaitu kandang selalu dibersihkan dan dijaga/dicek apabila ada bagian yang rusak supaya segera disulam/diperbaiki kembali. Dengan demikian daya guna kandang bisa maksimal tanpa mengurangi persyaratan kandang bagi ternak yang dipelihara.

7. HAMA DAN PENYAKIT 7.1. Penyakit 1. Berak putih (pullorum) Menyerang ayam kampung dengan angka kematian yang tinggi. Penyebab: Salmonella pullorum. Pengendalian: diobati dengan antibiotika

2. Foel typhoid Sasaran yang disering adalah ayam muda/remaja dan dewasa. Penyebab: Salmonella gallinarum. Gejala: ayam mengeluarkan tinja yang berwarna hijau kekuningan. Pengendalian: dengan antibiotika/preparat sulfa. 3. Parathyphoid Menyerang ayam dibawah umur satu bulan. Penyebab: bakteri dari genus Salmonella. Pengendalian: dengan preparat sulfa/obat sejenisnya. 4. Kolera Penyakit ini jarang menyerang anak ayam atau ayam remaja tetapi selain menyerang ayam menyerang kalkun dan burung merpati. Penyebab: pasteurella multocida. Gejala: pada serangan yang serius pial ayam (gelambir dibawah paruh) akan membesar. Pengendalian: dengan antibiotika (Tetrasiklin/Streptomisin). 5. Pilek ayam (Coryza) Menyerang semua umur ayam dan terutama menyerang anak ayam. Penyebab: makhluk intermediet antara bakteri dan virus. Gejala: ayam yang terserang menunjukkan tanda-tanda seperti orang pilek. Pengendalian: dapat disembuhkan dengan antibiotia/preparat sulfa.

6. CRD CRD adalah penyakit pada ayam yang populer di Indonesia. Menyerang anak ayam dan ayam remaja. Pengendalian: dilakukan dengan antibiotika (Spiramisin dan Tilosin).

7. Infeksi synovitis Penyakit ini sering menyerang ayam muda terutama ayam broiler dan kalkun. Penyebab: bakteri dari genus Mycoplasma. Pengendalian: dengan antibiotika.

7.2. Penyakit karena Virus

1. Newcastle disease (ND) ND adalah penyakit oleh virus yang populer di peternak ayam Indonesia. Pada awalnya penyakit ditemukan tahun 1926 di daerah Priangan.Tungau (kutuan) Penemuan tersebut tidak tersebar luas ke seluruh dunia. Kemudian di Eropa, penyakit ini ditemukan lagi dan diberitakan ke seluruh dunia. Akhirnya penyakit ini disebut Newcastle disease. 2. Infeksi bronchitis Infeksi bronchitis menyerang semua umur ayam. Pada dewasa penyakit ini menurunkan produksi telur. Penyakit ini merupakan penyakit pernafasan yang serius untuk anak ayam dan ayam remaja. Tingkat kematian ayam dewasa adalah rendah, tapi pada anak ayam mencapai 40%. Bila menyerang ayam petelur menyebabkan telur lembek, kulit telur tidak normal, putih telur encer dan kuning telur mudah berpindah tempat (kuning telur yang normal selalu ada ditengah). Tidak ada pengobatan untuk penyakit ini tetapi dapat dicegah dengan vaksinasi. 3. Infeksi laryngotracheitis Infeksi laryngotracheitis merupakan penyakit pernapasan yang serius terjadi pada unggas. Penyebab: virus yang diindetifikasikan dengan Tarpeia avium. Virus ini di luar mudah dibunuh dengan desinfektan, misalnya karbol. Pengendalian: (1) belum ada obat untuk mengatasi penyakit ini; (2) pencegahan dilakukan dengan vaksinasi dan sanitasi yang ketat. 4. Cacar ayam (Fowl pox) Gejala: tubuh ayam bagian jengger yang terserang akan bercak-bercak cacar. Penyebab: virus Borreliota avium. Pengendalian: dengan vaksinasi. 5. Marek Penyakit ini menjadi populer sejak tahun 1980-an hingga kini menyerang bangsa unggas, akibat serangannya menyebabkan kematian ayam hingga 50%. Pengendalian: dengan vaksinasi. 6. Gumboro Penyakit ini ditemukan tahun 1962 oleh Cosgrove di daerah Delmarva Amerika Serikat. Penyakit ini menyerang bursa fabrisius, khususnya menyerang anak ayam umur 3–6 minggu.

7.3. Penyakit karena Jamur dan Toksin Penyakit ini karena ada jamur atau sejenisnya yang merusak makanan. Hasil perusakan ini mengeluarkan zak racun yang kemudian di makan ayam. Ada pula pengolahan bahan yang menyebabkan asam amino berubah menjadi zat beracun. Beberapa penyakit ini adalah : 1. Muntah darah hitam (Gizzerosin) Ciri kerusakan total pada gizzard ayam. Penyebab: adalah racun dalam tepung ikan tetapi tidak semua tepung ikan menimbulkan penyakit ini. Timbul penyakit ini akibat pemanasan bahan makanan yang menguraikan asam amino hingg menjadi racun. Pengendalian: belum ada. 2. Racun dari bungkil kacang Minyak yang tinggi dalam bungkil kelapa dan bungkil kacang merangsang pertumbuhan jamur dari grup Aspergillus. Untuk menghindari keracunan bungkil kacang maka dalam rancung tidak digunakan antioksidan atau bungkil kacang dan bungkil kelapa yang mengandung kadar lemak tinggi. 7.4. Penyakit karena Parasit 1. Cacing Karena penyakit cacing jarang ditemukan di peternakan yang bersih dan terpelihara baik. Tetapi peternakan yang kotor banyak siput air dan minuman kotor maka mungkin ayam terserang cacingan. Ciri serangan cacingan adalah tubuhnya kurus, bulunya kusam, produksi telur merosot dan kurang aktif. 2. Kutu Banyak menyerang ayam di peternakan Indonesia. Dari luar kutu tidak terlihat tapi bila bulu ayam disibak akan terlihat kutunya. Tanda fisik ayam terserang ayam akan gelisah. Kutu umum terdapat di kandang yang tidak terkena sinar matahari langsung maka sisi samping kandang diarahkan melintang dari Timur ke Barat. Penggunaan semprotan kutu sama dengan cara penyemprotan nyamuk. Penyemprotan ini tidak boleh mengenai tangan dan mata secara langsung dan penyemprotan dilakukan malam hari sehingga pelaksanaannya lebih mudah karena ayam tidak aktif.

7.5. Penyakit karena Protoza

Penyakit ini berasal dari protozoa (trichomoniasis, Hexamitiasis dan Blachead), penyakit ini dimasukkan ke golongan parasit tetapi sebenarnya berbeda. Penyakit ini jarang menyerang ayam lingkungan peternakan dijaga kebersihan dari alang-alang dan genangan air.

8. P A N E N

8.1. Hasil Utama

Hasil utama dari budidaya ayam petelur adalah berupa telur yang diahsilkan oelh ayam. Sebaiknya telur dipanen 3 kali dalam sehari. Hal ini bertujuan agar kerusakan isi tlur yang disebabkan oleh virus dapat terhindar/terkurangi. Pengambilan pertama pada pagi hari antara pukul 10.00-11.00; pengambilan kedua pukul 13.00-14.00; pengambilan ketiga (terakhir) sambil mengecek seluruh kandang dilakukan pada pukul 15.00-16.00.

8.2. Hasil Tambahan

Hasil tambahan yang dapat dinukmati dari hasil budidaya ayam petelur adalah daging dari ayam yang telah tua (afkir) dan kotoran yang dapat dijual untuk dijadikan pupuk kandang.

8.3. Pengumpulan Telur yang telah dihasilkan diambil dan diletakkan di atas egg tray (nampan telur). Dalam pengambilan dan pengumpulan telur, petugas pengambil harus langsung memisahkan antara telur yang normal dengan yang abnormal. Telur normal adalah telur yang oval, bersih dan kulitnya mulus serta beratnya 57,6 gram dengan volume sebesar 63 cc. Telur yang abnormal misalnya telurnya kecil atau terlalu besar, kulitnya retak atau keriting, bentuknya lonjong.

8.4. Pembersihan Setelah telur dikumpulkan, selanjutnya telur yang kotor karena terkena litter atau tinja ayam dibershkan. Telur yang terkena litter dapat dibersihkan dengan amplas besi yang halus, dicuci secara khusus atau dengan cairan pembersih. Biasanya pembersihan dilakukan untuk telur tetas.

9. PASCA PANEN

---

10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN

10.1. Analisis Usaha Budidaya

Perkiraan analisis budidaya ayam petelur buras (150 ekor) tahun 1998 di Bintaro, Jakarta .

1) Biaya produksi

a. Modal tetap (investasi)

- Kandang dan atap Rp. 225.000,-

- Induk 150 ekor @ Rp. 17.500,- Rp. 2.626.000,-

Jumlah biaya modal tetap Rp. 2.850.000,-

b. Modal kerja/variabel

- Pakan 90 gr x 150 x Rp. 1.210,-/kg x 30 Rp. 490.000,-

- Penyusutan kandang (4tahun) Rp. 4.700,-

- Penyusutan induk (umur produktif 2 tahun) Rp. 109.375,-

- Obat-obatan Rp. 1.000,-

- Resiko kematian 3% per tahun Rp. 6.565,-

Jumlah biaya modal kerja Rp. 611.640,-

Jumlah biaya prasarana produksi Rp. 611.640,-

2) Pendapatan

a. Telur 60 x Rp. 650,- x 30 Rp. 1.170.000,-

b. Ayam afkir 141 ekor x Rp. 10.000,- Rp. 58.750,-

Jumlah pendapatan Rp. 1.228.750,-

3) Keuntungan

a. Rp. 1228.750,- – Rp. 611.640,- = Rp. 617.110,-

4) Parameter kelayakan usaha

a. B/C ratio = 2,0

Keterangan : - Perhitungan biaya dan pendapatan dilakukan dalam 1 bulan

- Harga-harga diperhitungkan pada bulan November 1998

- Diperlukan luas tanah 40 m2

10.2. Gambaran Peluang Agribisnis

Dewasa ini kebutuhan telur dalam negeri terus meningkat sejalan dengan peningkatan pola hidup manusia dalam meningkatkan kebutuhan akan protein hewani yang berasal dari telur. Selain itu juga adanya program pemerintah dalam meningkatkan gizi masyarakat terutama anak-anak. Kebutuhan akan telur yang terus meningkat tidak diimbangi dengan produksi telur yang besar sehingga terjadilah kekurangan persediaan telur yang mengakibatkan harga telur mahal.

Dengan melihat kondisi tersebut budidaya ayam petelur dapat memberikan keuntungan yang menjanjikan bila di kelola secara intensif dan terpadu.

11. DAFTAR PUSTAKA

1. Muhammad Rasyaf, Dr.,Ir. Beternak Ayam Pedaging. Penerbit Penebar Swadaya (anggota IKAPI) Jakarta .

2. Cahyono, Bambang, Ir.1995. Cara Meningkatkan Budidaya Ayam Ras Pedaging (Broiler).

Penerbit Pustaka Nusatama Yogyakarta .

12. KONTAK HUBUNGAN

1. Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan – BAPPENAS

Jl.Sunda Kelapa No. 7 Jakarta , Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390 9829

2. Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi, Deputi Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Iptek, Gedung II BPPT Lantai 6, Jl. M.H.Thamrin No. 8, Jakarta 10340, Indonesia, Tel. +62 21 316 9166~69, Fax. +62 21 310 1952, Situs Web: http://www.ristek.go.id

Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas

SEKILAS POSTING:

1. Cerah Peluang Usaha Ayam kampung, 27 March 2009

Peluang bisnis ayam kampung yang merupakan bisnis usaha yang menggiurkan di bidang peternakan. Peluang bisnis ayam kampung sangat cerah di bandingkan dengan bisnis usaha ayam pedaging. Misalnya, bisnis usaha ayam ras(ayam pedaging) langsung terkapar ketika krisis berlangsung. Maklum ayam jenis ini banyak menelan dollar, mulai dari bibit, bahan baku pakan, obat-obatan hinggaperalatan.

Lain cerita kalau yang diternakan ayam kampung atau ayam buras(bukan ras) yang 100 % asli Indonesia . Menurut data Ditjen Peternakan, tahun 1998 populasi ayam kampung mengalami peningkatan sekitar 1 % dibanding tahun sebelumnya, jauh berbeda dengan ayam ras yang anjlok sampai 70 %.

Produksi telur ayam ras (leghorn) petelur misalnya bisa mencapai 300 butir setahun. Sementara ayam kampung yang dipelihara secara khusus paling banter hanya 100 butir telur. Begitu juga dengan ayam ras pedaging (broiler). Tubuhnya cepat bongsor, dalam 30 hari bisa mencapai 1 kg. Sementara ayam kampung membutuhkan 3 bulan untuk mencapai bobot hidup yang sama . Hanya saja harga daging dan telur ayam kampung lebih tinggi, itu kelebihannya.

Beberapa pandangan mengenai peluang usaha Ayam Kampung:

1. Keuntungannya jelas

Bila serius keuntungan usaha penetasan ayam kampung ternyata cukup menggiurkan. Saat ini harga sebutir ayam kampung Rp 800. Sementara harga seekor anak ayam yang baru menetas atau biasa disebut DOC (Day Old Chick), sekitar Rp 2000 perekor, berarti kalau ditetaskan untungnya lebih dari 100 % ? memang besar.

2. Mencari telur

Pada dasarnya tidak sulit asal mau telaten. Sebab, telur bisa diperoleh di kampung-kampung. Pada pemeliharaan trdisional, umumnya setiap induk melakukan perkawinan dengan ayam pejantan. Sehingga telur yang dihasilkan merupakan telur yang bertunas atau yang bisa di tetaskan. Bisa juga melalui penjual jamu gendong, dipasar-pasar lokal juga mudah ditemukan.

3. Mesin penetas

Mesin tetas bisa didapat dengan dua cara. Jika punya uang bisa membeli mesin tetas sendiri. Harganya antara Rp 700 ribu hingga Rp 5 juta, tergantung daya tampungnya. Untuk alat yang satu ini, banyak yang dijual disekitar Tangerang. Kalau mau menyewa bisa dicari sekitar Rawa Belong, Jakarta Barat. Akan lebih untung kalau memiliki mesin penetas sendiri dengan kapasitas yang besar. Selain dipakai sendiri, juga bisa disewakan.

4. Pemasaran

Tak usah bingung memasarkan anak ayam. Banyak jalannya. Antara lain melalui Koperasi Peternak ayam buras Jakarta . Atau bisa langsung bekerja sama dengan peternak ayam buras. Kalau belum puas dengan hasil anak ayam, bisnis ini bisa dikembangkan sebagai bisnis terpadu. Artinya, selain anak ayam, juga beternak ayam pedaging (broiler) dan telur.

5. Pakan Di buat sendiri

Siapa yang tak ingin usahanya berkembang. Untuk itu, ada baiknya seorang peternak juga menguasai pembuatan pakan. Sejak krisis berlanjut, tidak sedikit pengusaha peternakan, baik ayam pedaging maupun petelur, yang gulung tikar. Penyebabnya ya, karena sebagian besar bahan bakunya mengandalkan impor. Sementara pakan dari bahan baku lokal yang sebenarnya dari sisi kualitas tidak kalah, masih jarang dilirik peternak. Dari pada buang duit untuk membeli bahan pakan ternak ada baiknya mempelajari kiat membuat pakan sendiri seperti yang disajikan dibawah ini. (Tabel I & II). Pola usaha ini sudah dujalani Ekok Wakradiharjo, peternak ayam kampung yang bermukim di Jagarkarsa, Jakarta Selatan. Dengan menggunakan pakan lokal ia mampu memetik penghasilan lumayan besar.

Dari 1000 ekor ternaknya, minimal setiap bulan mengantungi keuntungan Rp. 1,4 juta. Itu baru dari hasil penjualan ayam kampung pedaging. Jadi belum termasuk telur, ayam afkiran dan kotoran ayam yang belakangan ini jadi rebutan petani karena harga pupuk kimia sangat mahal. AKS(Kiriman Bambang Suharno, Bekasi). Semoga artikel peluang bisnis ayam kampung ini bisa menambah wawasan kita dalam menata masa depan keluarga.

2. Bambang Krista: Diselamatkan Ayam Kampung

Frustasi didera kebangkrutan usaha broiler, ia beralih ke ayam kampung yang ternyata menyelamatkan masa depannya.

Sapa gething, bakal nyanding. Jika terlalu membenci sesuatu, kelak justru akan didekatkan. Kurang lebih inilah yang terjadi pada Bambang Krista. Ketika menimba ilmu peternakan di Universitas Diponegoro lebih dua dasawarasa silam, dia paling anti dengan mata kuliah perunggasan. Bolos kuliah pun tak segan-segan dilakukannya demi menghindari perkuliahan soal ayam. Siapa sangka, ia kini malah bertopang hidup pada unggas, makhluk yang dulu tak disukainya.

Lelaki 45 tahun asal Solo yang pernah puluhan tahun malang melintang menjadi peternak broiler itu sekarang mantap memutuskan fokus di komoditas ayam kampung. Seorang rekan peternak anggota Gopan (Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional) mengatakan, “Sejak saya masih jadi TS (sebutan untuk tenaga pemasaran perusahaan obat/pakan ternak) dan belum punya ayam sama sekali dia ini sudah kerjaannya di budidaya broiler, dulunya.”

Kini belum genap setahun Bambang mengembangkan ayam kampung petelur, gurihnya bisnis tersebut telah dia rasakan. Populasi induk ayam kampung di kandangnya mencapai 4000 ekor dengan produksi telur mencapai 1500 butir perhari, plus 300 pejantan dan anakan umur 1 – 7 hari tak kurang dari 2000 ekor. Sementara broiler-nya kini tersisa tak lebih dari 15 ribu ekor. “Akan lebih fokus di ayam kampung, tapi karena masih belajar, broiler meski sedikit masih jalan,” Bambang menjelaskan pilihan. Kini ia memiliki 8 unit mesin tetas dengan periode pull chick tiap Senin dan Kamis. “Produksi rata-rata 1000 DOC per minggu,” sebutnya. Selain memasarkan telur, Bambang juga menjual anakan. “Rencananya, kelak jual pullet (calon petelur-red) juga,” tambahnya.

Bertandang ke kandangnya di Burangkeng, Setu Bekasi serasa piknik ke sebuah villa di tengah hutan. Lahan seluas tak kurang 2 hektar yang dibelinya rentang 2001 – 2005 dimanfaatkannya membangun sebuah pondokan yang dikelilingi kandang ayam kampung, kandang broiler, kandang domba, kolam lele, serta budidaya tanaman hias dan hortikultura. Itu pun baru 50% digunakannya, selebihnya masih ditumbuhi pepohonan besar.

Pengalaman di Broiler

Pria yang juga wakil ketua Asosiasi Tanaman Hias untuk wilayah Bekasi ini mengaku mengenal dekat ayam justru setelah lulus kuliah. Di masa-masa awal perkenalannya dengan ayam, Bambang langsung kepincut untuk melakukan usaha budidaya broiler. Salah satu alasannya karena perputaran uang di bisnis ini tergolong cepat, hanya sekitar 25 – 40 hari. Bahkan kalau sedang mujur mendapatkan harga jual tinggi, laba besar dipastikan akan tergenggam. Bisnis broiler pun sempat mendatangkan kemakmuran dalam kehidupan Bambang.

Memulai terjun di bisnis perunggasan pada 1989, Bambang bekerja di PT Subur, sebuah perusahaan pembibitan. Di tempat itu, suami Upi Yuliarsih ini menemukan fakta bahwa bisnis unggas ternyata menggiurkan dan sangat menarik. Setahun kemudian ia berani memutuskan keluar dan mantap untuk beternak ayam ras broiler secara mandiri. Populasi awalnya 2000 ekor, dan berkembang pesat hingga mencapai ratusan ribu ekor. Tapi beberapa tahun berikutnya, usaha broiler Bambang kena imbas krismon dan bang krut. Dia mengaku sempat frustasi, dan pada 1998 dia banting setir memilih berdagang sembako.

Meski sudah tidak beternak ayam, bukan berarti Bambang lepas hubungan dengan unggas. Kala itu banyak rekanan yang menawarinya untuk kembali ke perusahaan perunggasan. Akhirnya pada 1999, ayah dari Glaudia Yuliakrista, Fauziah Yuliana, dan Faizal Prabowo ini ikut bergabung dengan PT Leong Hap Ayam 1, perusahaan pembibitan grup Malindo. Sembari ia kembali mengisi kandang broiler-nya secara mandiri dengan populasi 40 ribu ekor. Rentang waktu itu, ia sempat keluar dari Leong dan gabung ke PT Lestari Agribisnis Indonesia (LAI), sebuah peternakan layer. Sementara itu, bisnisnya broiler berkembang sampai 100 ribu ekor. Tetapi lagi-lagi, pada 2003 bisnis Bambang hancur dihantam krisis. Dan akhirnya dia memutuskan untuk menyewakan kandangnya dan hanya memiliki ternak ayam broiler dengan populasi 15 ribu ekor, yang masih bertahan sampai kini.

Usaha ternak broiler memang menyimpan risiko yang besar. Dan itu dirasakan betul oleh Bambang. Populasi broiler-nya yang pernah mencapai 300 ribu ekor harus gulung tikar, buntung beserta seluruh modalnya. ”Ketujuh mobil saya ludes,” katanya pahit menceritakan kerugian terbesar yang dia alami.

Bambang tak menutup mata bahwa bisnis ini rentan. ”Fluktuasi kondisi dan harga broiler sangat tinggi,” kata Bambang menilai. Fakta itu membuat dirinya kerap dihingggapi rasa was-was akan keberlangsungan usahanya. ”Saya capek dengan bisnis broiler yang tak menentu,” keluhnya. Selengkapnya baca Majalah TROBOS edisi Januari 2009.

3. BETERNAK AYAM ORGANIK

Mengatasi krisis moneter saat ini, dimana nilai pendapatan dari gaji bulanan yang tidak lagi memenuhi kebutuhan sehari-hari dikarenakan harga kebutuhan pokok yang melambung tinggi, banyak orang membuat kegiatan sebagai usaha sampingan dalam menambah penghasilan.

Beberapa usaha yang dilakukan mulai dari bertani, beternak, dan bahkan usaha bisnis lain. Untuk usaha keluarga dalam beternak, banyak orang memilih ayam sebagai usahanya, karena sistem beternak ayam lebih sederhana dan mudah tanpa menguras waktu dan tenaga yang banyak baik dalam pemeliharaan dan pemberian pakan.

Syarat pokok dalam mengusahakan ternak ayam :

1. Penguasaan ilmu.

o Breeding, menyangkut pemilihan dan penggunaan bibit unggul ditingkat final stock serta strain tertentu.

o Feeding, menyangkut penyediaan dan pemberian ransum.

o Management, menyangkut tata laksana perkandangan, perawatan, pamasaran dll.

o Disease management, menyangkut sanitasi, vaksinasi, dll.

2. Kepemilikan jiwa peternak

o Ketekunan, menumbuhkan rasa cinta kasih besar terhadap ternak.

o Disiplin, menumbuhkan tanggungjawab terhadap hidup matinya ayam.

o Tidak mudah putus asa, kesabaran dalam menanggulangi kesulitan ekonomis maupun teknis.

Produksi ternak dipengaruhi oleh dua faktor :

1. Faktor genetis. Ini menyangkut keturunan yang akan mempengaruhi selanjutnya terhadap tinggi rendahnya produksi.

2. Faktor luar. Adapun faktor luar yang mempengaruhi antara lain : tata laksana, perkandangan, makanan, lingkungan, dan penyakit.

Ada dua (2) jenis ayam yang biasa diternakkan selain ayam kampung :

1. Ayam pedaging (Broiler).

2. Ayam petelur (layer).

Pemeliharaan ayam :

1. Fase awal

o Brooder yang baik

o Alat-alat pemanas yang stabil

o Konstruksi indukan yang baik

Konstruksi Brooder yang baik :

o Lantai mudah dibersihkan.

o Tinggi tempat makan dan minum 2,5 cm diatas punggung ayam.

o Ukuran tempat makan, panjang 1,5 cm (ayam umur 1-2 minggu) dan 5 cm (ayam umur 2-8 minggu), lebar 8 cm, dalam 6 cm.

o Ukuran tempat minum, separoh dari tempat makan.

o Ukuran brooder, 15-20 ekor/m2 (umur 1 hari-8 minggu), 10-15 ekor/m2 (umur 8-22 minggu), 4-6 ekor/m2 (umur lebih dari 22 minggu).

2. Fase pertumbuhan

o Populasi hunian 5-10 ekor/m2 .

o Pemberian makanan sebaiknya 2 kali sehari.

o Kadar protein pada ransum 14-16%.

3. Fase Bertelur

o Untuk ayam petelur, pada umur 5,5-6 bulan ayam sudah bertelur.

o Makanan, protein disarankan kira-kira 17 %.

o Pada wal bertelur supaya diberi feed suplement atau extra vitamin.

o Kandang dengan popoulasi 4-5 ekor/m2, tebal lantai 25-30 cm, sarang perteluran 35 x 35 x 40 cm/5 ekor.

Produktifitas telur, perlu pengaturan kadar protein dalam ransum, pemberantasan cacing dan kutu ayam secra regular, penyediaan air minum yang bersih dan memadai.

Syarat kandang ayam yang bagus :

a. Mempunyai ventilasi udara.

b. Terkena sinar matahari.

c. Lantai terbuat dari tanah, semen, dengan dialasi dengan serbuk gergaji atau sekam padi.

d. Mempunyai tempat makanan dan minuman.

e. Mempunyai tempat bertengger.

Makanan, Fungsi :

o Memenuhi kebutuhan hidup.

o Membentuk sel dan jaringan hidup.

o Menggantikan sel yang rusak.

o Bahan untuk berproduksi.

Yang mutlak diperhatikan terutama zat-zat makanan :

1. Karbohidrat, sebagai sumber energi untuk mobilitas tubuh ayam, dan resistensi terhadap pengaruh lingkungan. Sumber : jagung dan beras.

2. Lemak, sebagai sumber energi dan alat transportasi buat vitamin A, D, E, dan K. Sumber : Kacang tanah, dedak halus, kedelai, bungkil kelapa, tepung ikan, tepung daging, dsb.

3. Protein, untuk pertumbuhan tulang, urat, daging, kulit, bulu, dan menggantikan jaringan-jaringan tubuh yang rusak. Sumber : tepung daging, tepung darah, tepung ikan, susu, bekicot, siput, cacing dll (hewani); kacang tanah, kacang kedelai, kacang hijau, kacang panjang, bungkil kelapa dll (nabati).

4. Mineral, untuk alat berproduksi, seperti : kalsium (pembentukan tulang dan kulit telur), natrium (darah), HCl (getah lambung), Fe (butir darah merah), yodium (kelenjar gondok) dll. Sumber : tepung tulang, tepung kerang, kapur dsb.

5. Vitamin, mempertahankan kesehatan tubuh dan kemampuan berproduksi. Sumber : minyak ikan, susu, hati (vitamin A); jagung, katul, kacangkacangan (vitamin B1); jagung, beras, daunan hijau (vitamin B2); padi-padian, ikan ragi, hijauan (vitamin B6), kotoran lembu/kerbau (vitamin B12), minyak ikan, susu, kacang-kacangan (vitamin D); touge, hijauan, padi-padian (vitamin E), dll.

Air, fungsinya :

o Membantu proses pencernaan.

o Membawa zat makanan ke seluruh tubuh.

o Mengatur suhu tubuh dan metabolisme.

o Pembuangan sisa makanan.

Lebih dari 60 % tubuh ayam terdiri dari kandungan air. Ayam selalu minum setiap 15-20 menit.

Energy Tambahan :

1. Antibiotic, fungsi untuk menstimulir pertumbuhan, mencegah penyakit, dan efisiensi setiap perubahan ransum. Sumber : penicillin, terramycin, exythromycin, dll.

2. Feed Suplement, fungsi untuk mencegah penularan penyakit, mempercepat pertumbuhan, meningkatkan produksi, dll. Sumber : Premix B, Premix A, TM 10, Egg Formula, Rovimix AD3, Mineral, dll.

3. Concentrate, campuran bahan makanan yang dilengkapi dengan : protein, carbohydrat, lemak, dan zat kasar lainnya. Concentrate complit terdiri dari protein, mineral, dan vitamin.

4. Hijauan, fungsi untuk menambah nafsu makan dan tambahan vitamin. Sumber : daun-daunan berwarna hijau yang segar.

Pakan ayam pedaging (broiler)

Bahan-bahan :

o Konsentrat 20 %.

o Dedak 35 %.

o Jagung giling 25 %.

o Bungkil Kelapa 20 %.

Pakan ayam petelur (layer)

Bahan-bahan :

o Konsentrat 25 %.

o Dedak 35 %.

o Jagung giling 40 %.

o Mineral 0,1 %.

T : Apakah usaha beternak ayam kampung itu menguntungkan.namun saya ingin mengambil hasil telur-nya saja?

J1 : Dengan memahami teknologi peternakan ayam kampung/arab petelur dan proses pemeliharaan sepenuhnya ayam kampung didukung dengan strategi pemasaran dan lokasi peternakan (jgn ditengah2 padat penduduk biar ga ada yg komplain), saya yakin usaha anda akan sangat menguntungkan. Yang terpenting bagi anda adalah jangan menyepelekan hal-hal yang kecil, karena ada bisa besar disebabkan memahami dan menyelesaikan hal-hal yang kecil alias sepele. Banyak media yang bisa anda jadikan rujukan dalam proses peternakan ayam kampung seperti majalah trubus. Bua analisa sederhana tentang kelayakan usaha anda dengan menyesuaikan kemampuan modal anda. Rencanakan bisnis plan secara bertahap dengan pencapaian tahapan-tahapan yang realistis seperti jumlah ayam yang akan ada ternakan harus bertahap, jangan langsung besar-besaran, krn kalo ada yg eror anda bisa meminimalisir kerugian. Segitu dulu infonya, semoga bermanfaat.

J2 : Pasti untung asalkan dilakukan secara profesional. Ada kenalan saya sekarang dia pemilik pabrik bahan-2 bngunan, dulu sejarah bisnisnya pernah punya ayam petelur jenis leghorn dalam jumlah besar shg telurnya setiap hari (sorry ayam gak ada libur) 4-5 ton. Beliau memulai bisnisnya dgn profesionalis, mobil masuk ke peternakan nya harus melewati kolam air spy bannya bersih lalu difogging, memberi makan ayampun dgn komputerisasi shg makanan ayam sesuai dgn jmlh & umur ayam(efisien) Mgkn th 1970 an ada yg tau stempel telurnya KB (Kandang Biru) Karena situasi bisnis wkt itu dikuasai org-2 yg dekat dg presiden shg usaha kawan itu dijegal n dipenggal-penggal. Ada yg kasih info ayam arab paling rajin bertelur. Selamat berternak bagi-2 yach telur gorengnya .....

J3 : Kalau manajemen pemeliharaan, bibit serta pakan yang baik maka dapat dipastikan hasilnya juga baik. Disamping hal itu jangan lupa adalah tentang pemasarannya, kalau pemasarannya oke hasilnya juga oke. Dari situ dapat diambil kesimpulan usaha beternak ayam kampung menguntungkan. Tapi setiap usaha pasti ada resikonya yang pasti usaha yang menghasilkan untung yang besar, resikonya juga besar, usaha yang menghasilkan untung yang relatif kecil, untungnya juga lebih kecil. Kalau untuk mengambil telur saja sih tidak masalah, sebab pasti nantinya waktu diafkir kita juga jual daging ayam tersebut, jadi dalam hal ini daging merupakan produk sampingan yang kita dapat. Untuk perbandingan saja ya untuk ayam kampung petelur dengan ayam ras petelur, telur yang dihasilkan dalam satu tahun lebih banyak ayam ras petelur, pemasaran lebih mudah ayam ras petelur, cuma harga telur ayam kampung lebih mahal dan lebih stabil bila dibandingkan ayam ras petelur.

J4 : Usaha beternak ayam kampung masih bisa kita harapkan keuntungannya,karena permintaan pasar untuk hasil produk ayam kampung masih terbuka lebar,baik daging,telur maupun hasil sampingan nya (kotoran,bulu). Ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dalam berusaha ayam kampung:

1. Pilih bibit unggul,sesuai tujuan beternak.Kalau beternak akan diambil dagingnya maka pilih jenis ayam kampung yang cepat pertumbuhan dan bobotnya.kalau mau diambil telurnya maka pilihlah jenis/strain yang produktif menghasilkan telur.Ayam buras strain Ayam Arab adalah salah satu yang banyak menghasilkan telur.

2. Efisiensi,lakukan efisiensi di hal pakan,tenaga,dan tempat.

3. Spesialisasi.Kalo tujuan anda beternak ayam untuk hanya diambil telurya saja,itu bisa,bahkan itu yang bagus.

4. Sanitasi.Ini adalah hal yang sering diabaikan oleh peternak di negara kita.Padahal sanitasi yang benar akan meningkatkan kekebalan tubuh ayam,sehingga ayam bisa tetap sehat dan berproduksi optimal.

Materi referensi:

- Pengalaman pribadi,sebagai peternak ayam arab

- Belajar peternakan ayam di Jepang.

a. Saya berminat ternak ayam kampung pedaging. Yang menjadi masalah, saya harus mulai dari nol. Dimanakah saya dapat bertanya tentang tips mungkin trik2 ataupun cara beternak ayam kampung. Saya baru mencoba 150 ekor DOC (saya beli di desa Barongan di Jogja bagian selatan) sampai saat ini sudah berumur 30 hari. Saya dengar ada yang menjual DOC di daerah Malioboro. Yang relatif lebih dekat. Mohon bantuannya. Terimakasih.

b. Saya juga lagi mau beternak ayam kampung pedaging tapi doc nya netas sendiri aku lagi coba netas doc saja soalnya usaha pembesaran mahal, k´lo boleh tau doc di yogya harga berapa sekarang. Ini email ku : arifptk@bozz.com. Kita bisa tukar pengalaman dan ilmu. namaku arifin alamat jl. bengawan 1 salatiga.

c. Harganya Rp 2200 per doc mas di jogja

d. Bagaimana caranya beternak ayam kampung petelur ? Menguntungkan yang mana beternak ayam kampung dengan ayam arab petelur ?? alamat ku :Iskhak@lautan-luas.com.

e. enakan ayam kampung petelur pak.

f. Bagaimana dng ayam kampung pedaging ? bagaimana caranya agar ayam kampung bisa dipercepat pertumbuhannnya ??

g. oh, mau ayam kampung pedaging? bisa juga. kalo yang cepat pertumbuhannya, ada tuh ayam kampung hibrida, super atau campur sari. dia pertumbuhannya relatif lebih cepat dibanding kampung bisasa, tapi masih dibawah ayam broiler.

h. Dimana belinya DOC untuk ayam kampung hibrida, campur sari,.... saya tertarik untuk beli.

i. apa yg di maksud ayam hibrida/ayam campursari itu ayam jawa super ?? kl iya bukan kah bentuk fisik nya sama dng ayam broiler ?? kl iya brarti di jual dng harga per kilo, sebenarnya kawin silang ayam ras dng ayam kampung mnrt pakar itu suatu yg salah kaprah

j. diya, mirip ayam pedaging atau petelur. persilangan dengan ayam kampung. dijual tidak per kilo pak, tapi per ekor. kalo silang menyilang itu sah2 saja pak. pakar itu kan mbela perusahaan bibit di luar negeri sana . itu bisnis mereka. kalo disilangkan, trus kita budidaya sendiri, kan dia rugi pak kita nggga beli DOC mereka.

k. Oke deh Pak ADMIN,.. saya tanya itu silangannya bagaimana,. jantannya yang negri atau betinanya. terus belinya dimana. Saya mau coba begitu. Trims.

l. yeah ini hanya contoh aja pak hendra. ayam hibrida yang disilangkan di magelang, dan dijual rp 2500 per ekor itu, jantannya adalah ayam pelung (ayam kampung kita), nah yang betina adalah ayamr ras layer merk bovans. masih banyak contoh persilangan yang dilakukan beberpa peternak untuk mendapatkan ayam unggul. liat di beberapa edisi majalah poultry indonesia .

m. mau juga donk info kandang batere yang murah dan praktis buatnya saya tidak tahu bagaimana cara mulai beternak ayam nih ada yg bisa ngasih saya panduan???

Boleh Pilih, Ayam Kampung atau Ayam Arab JA Noertjahyo

AYAM kampung masuk kota . Demikian bunyi slogan yang menusuk tajam dan bernuansa antagonistik, dan karena itu menyentak, menarik perhatian dan minat. Bahkan, mampu mengoyak selera makan yang mendewakan kenikmatan. Ayam kampung memang jelas lebih higienis dan lezat dibanding ayam ras. Meski melekat sifat "kampungan", ayam kampung ternyata kedudukannya tidak bisa digoyang oleh ayam ras. Terutama dari segi kelezatan dan harga. Maka, terciptalah semacam konotasi, makan ayam kampung terasa lebih elite dan edukatif dibanding makan ayam ras.

Entah sampai kapan peringkat ayam kampung akan tetap berada di atas ayam ras. Yang jelas, populasi ayam kampung terasa makin menurun. Di beberapa kota besar bahkan sudah sulit mencari telur ayam kampung.

Peluang ini secara sigap dan tepat dimasuki "ayam asing" yang kini dikenal dengan sebutan "ayam arab". Secara fisik hanya orang-orang tertentu yang mengetahui bedanya telur ayam kampung dengan telur ayam arab. Bahkan, setelah memakannya tetap tidak mudah mengetahui perbedaan tersebut.

Salah seorang peternak ayam arab di daerah Malang adalah Samsul Hadi (26). Ia merintis peternakan itu sejak tahun 1994. Lokasinya di Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo, Kota Batu (dulu masuk Kabupaten Malang). Saat ini Samsul memiliki 1.500 ekor ayam arab, termasuk pejantannya. Ia juga beternak ayam ras pedaging, jumlahnya sekitar 3.000 ekor.

Menurut Samsul, di desanya itu tahun 1995 terdapat sekitar 33 peternak ayam arab. Mereka tergabung dalam Kelompok Cipta Karya. Dalam Lomba Ayam Buras tahun 1995, kelompok ini menyabet gelar juara pertama tingkat Kabupaten Malang, kemudian juga juara pertama tingkat Provinsi Jawa Timur. Tetapi, setelah lomba tersebut jumlah peternak terus menurun, dan tahun 2001 ini tinggal sekitar lima orang. "Memang butuh ketekunan dan kesabaran untuk menggeluti peternakan ayam," ujar Samsul.

Peternak yang mengaku hanya lulusan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) II Malang ini tiap harinya paling tidak mendapat hasil 600 butir telur ayam arab. Semuanya terjual habis di Batu dan Malang . Pelanggannya terutama para penjual jamu dan rumah makan tertentu yang konsumennya menyukai masakan telur ayam kampung.

Umumnya konsumen tidak bisa membedakan antara telur ayam arab dan telur ayam kampung. Sebab, bentuk, ukuran, penampilan fisik maupun rasanya hampir sama. Tetapi, dari segi harga tetap berbeda. Di tingkat peternak, telur ayam kampung harganya Rp 700, telur ayam arab Rp 600, dan telur ayam ras Rp 350 per butir.

Harga ini di tingkat pengecer/pasar bisa naik antara Rp 100-Rp 200 per butir. Rupanya di pasaran memang sengaja "dirancukan" identitas ayam arab dan ayam kampung. Ini akibat semakin sulitnya mencari telur ayam kampung.

DIBANDING ayam kampung, sebagai petelur ayam arab memang memiliki beberapa kelebihan. Manurut Samsul Hadi, porsi makanan ayam arab lebih sedikit sehingga biaya pemeliharaannya lebih hemat dibanding ayam kampung. Ayam arab juga tidak mengenal "masa mengeram", sehingga dimungkinkan terus-menerus bertelur.

Itu sebabnya, produktivitas telurnya juga lebih tinggi dibanding ayam kampung, bisa mencapai sekitar 240 butir per ekor per tahun. Ayam kampung hanya mampu menghasilkan sekitar 100 butir telur per ekor setahun. Yang paling produktif memang ayam ras, bisa 300 butir telur setahun. Namun, banyak konsumen kurang menyukai telur ayam ras, karena rasanya kalah enak dibandingkan telur ayam arab atau ayam kampung.

Warna kulit luar telur ayam arab juga mirip ayam kampung. Ayam yang masih murni warna kulit telurnya keputihan. Sedangkan yang sudah disilang dengan ayam kampung warnanya agak kecoklatan. Komposisi putih dan kuning telurnya pun mirip, tetapi ayam arab kuningnya agak kepucatan. Dalam rasa, keduanya sulit dibedakan. Kulit luar telurnya agak tebal dan kuat, sehingga tidak mudah pecah ketika diangkut untuk dipasarkan. Ini berbeda dengan telur ayam ras.

Ciri-ciri fisik ayam arab, bulunya blirik hitam-putih dan agak tebal, kepala berjengger tinggi warna merah, pial (gelambir) panjang dan merah, paruh hitam, mata hitam dan bulat-lebar, ekornya mekar ke atas, kaki hitam, gerakannya lincah. Ayam arab juga lebih tahan penyakit dibanding ayam ras.

Penjelasan Samsul itu dibenarkan oleh Subagio SPt (sarjana peternakan) yang juga beternak ayam arab di Tumpang. Dibanding beternak ayam kampung pedaging, menurut Subagio, lebih menguntungkan beternak ayam arab petelur. Dengan 200 ekor ayam arab, ia tiap harinya bisa mendapat sekitar 95 butir telur yang dipasarkan dengan harga Rp 600 per butir. Usaha Subagio juga berstatus sebagai rotary community-service corp (RCC) Malang dan sering untuk belajar bagi calon peternak lain.

BAGAIMANA kisahnya ayam arab masuk ke Indonesia ? Belum ada penjelasan secara resmi. Namun, yang beredar di Malang dan sekitarnya, ayam ini di Arab Saudi sendiri hanya diizinkan diternakkan oleh keluarga para raja. Seorang tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Malang tahun 1980-an berangkat ke Arab Saudi dan bekerja sebagai sopir di salah satu keluarga kerajaan.

Tahun 1985 TKI ini pulang ke Malang , dan diberi bekal 40 butir telur ayam arab oleh majikannya. Telur ini ditetaskan dan berhasil memperoleh 19 anak ayam. Inilah yang dipelihara sehingga akhirnya berkembang-biak ke mana-mana. "Saya tidak tahu benar-tidaknya cerita itu," kata Samsul Hadi. Ia sendiri mengalami jatuh-bangun dalam menekuni ternak ayam selama tujuh tahun ini.

Samsul Hadi juga menjual bibit ayam arab kepada para calon peternak. Para pembeli itu antara lain dari Surabaya , Pasuruan, Tulungagung, Lumajang, Jombang, Ponorogo, Jogya, Bandung , dan Jakarta . Bahkan juga dari luar Jawa, misalnya dari Lampung, Riau, Pontianak , Makassar, Bali , dan Irian. Harga bibit paling kecil Rp 2.500 per ekor, dan yang sudah siap bertelur (umur 4-5 bulan) Rp 34.000 per ekor. (JA Noertjahyo, wartawan di Malang )

Pembuat Pakan Ternak Pertama di Indonesia Yogya, KU

Pada mulanya Drh. Eko Nugroho menjadi dosen di Fakultas Peternakan (Faperta) UGM. Kala itu, tahun 1969, Faperta UGM baru saja dibuka. Dia seangkatan dengan Prof. Sunarto dan Prof. Sumitro, yang pernah menjabat Dekan Faperta UGM. Tetapi, dia kemudian behenti jadi dosen. Alasannya sederhana saja: gajinya sebagai dosen tidak cukup untuk memenuhi kebutuhannya. ”Aduh ya. Tapi malu ya. Dulu gaji dosen nggak mencukupi. Ketika PT Matutur menawari saya kerja sebagai sales representative, dengan gaji sepuluh kali lipat, dan disediakan rumah dan kendaraan, akhirnya profesi dosen saya tinggalkan,” kata Pak Nugroho.

Ketika masih bekerja di PT Matutur, Pak Nugroho sudah membuat pakan ternak. Bahkan dia sudah membuat pakan ternak itu sejak dia jadi dosen Faperta UGM. Dia juga membuat obat-obatan hewan. Untuk menjual produknya tersebut, dia mendirikan kios-kios kecil ukuran 4 x 4 di Jl. Hayam Huruk, Semarang dan di Gondomanan, Yogya. “Poultry shop di Indonesia saya pertama kali mulai buat,” aku lulusan Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan UGM 1968 ini.

Setelah berhasil membuat pakan ternak, Pak Nugroho beternak ayam petelur. “Kebetulan saya mendapat pemberian ayam white leghorn (ayam petelur) dari Pak Seno Sastraoamijoyo, yang baru pulang dari Australia . Ayam ini belum ada di Indonesia . Masyarakat kita hanya tahu beternak ayam kampung. Pak Seno heran, kok sarjana di Indonesia tidak bisa hidup. Saya lalu diberi 12 ekor ayam white leghorn dari Australia . Saya ternakkan ayam itu di rumah yang dipinjami teman saya. Enam bulan ayam tersebut sudah bertelur. Mulai umur 8 bulan, saya sudah jual telurnya sampai ke Lampung. Andaikan sekarang harga telur Rp 600, dulu saya bisa jual seharga Rp 2000. Dari 20 ekor ayam itu, saya bisa hidup,” kata Pak Nugroho, kelahiran Magelang, 8 Mei 1933.

Kenyataan di atas membuat Pak Nugroho mendirikan Eka Poultry. Perusahaan ini berkembang terus. Sampai saat berita ini ditulis, bisnis Pak Nugroho berkembang pesat. Dia juga sudah membuka peluang usaha bagi masyarakat untuk berbisnis. Sayang Pak Nugroho tidak mau menjelaskan jumlah omset yang dia miliki. Yang jelas, perusahaannya mampu menggaji 200 karyawan yang dia miliki. “Saya memulai usaha ini dari nol, hingga seperti saat ini. Bagi saya yang terpenting bisa membayar gaji karyawan,” tambah Pak Nugroho.

Pak Nugroho hanya bekerja di PT Matutur sampai tahun 1971. Setelah keluar dari PT Matutur, Pak Nugroho memilih mengembangkan Eka Poultry. Ketika bekerja di PT Matutur, dia banyak belajar bagaimana cara mencari uang. “Dari itu saya belajar, kalau cari uang caranya begini ya. Tokonya nggak usah rame tapi pesanannya dari mana-mana. Saat itu saya punya dua salesman dan satu tenaga administrasi,” kata ayah tiga orang anak ini.

Beruntung tahun 1970 an ada booming ternak ayam petelur. Pak Nugroho mendapat ide untuk mempercepat masa bertelur ayam kampung. “Ketika itu saya mengajak semua orang beternak ayam petelur. Ternyata banyak yang ikut. Mereka mengambil pakan ke perusahaan saya. Ada yang membeli satu karung satu truk pakan. Tidak heran bila dalam waktu dua tahun, saya bisa mengumpulkan uang Rp 1,5 juta. Bayangkan nilai uang itu tahun 1970-an,” tambah Pak Nugroho.

Sejak saat itu usaha Pak Nugroho sudah merambah ke berbagai bidang. Dari ternak kelinci, jangkrik, ikan hias, iguana, anjing hingga walet. Tidak heran jika saat itu dia sudah disebut sebagai salah seorang pakar walet Indonesia .

Pak Nugroho sering diundang jadi pembicara dalam berbagai seminar tentang walet. Dia juga sering mengadakan pelatihan tentang walet. Pelatihan yang dia adakan mendapat sambutan luas masyarakat. “Saat itu tahun 1989. Orang masih tertutup dalam hal cara beternak burung walet. Saat saya memberikan pelatihan cara beternak walet, diikuti oleh banyak orang. Dari walet inilah sebenarnya secara tidak langsung telah membantu mempromosikan salak pondoh Jogja ke berbagai daerah. Dalam beternak walet kita menganjurkan kepada peserta untuk menanam pagar di sekitar sarang walet, pagar ini berupa tanaman salak pondoh karena tanaman ini berduri. Kalau ada sarang walet pasti ditanam salak pondok. Maka permintaan bibit tanaman salak pondoh saya meningkat tajam. Padahal petani di daerah Sleman yang menjual sampai-sampai tidak mampu memenuhi permintaan. Tidak heran salak pondoh menjadi terkenal. Jika dulu tanaman salak pondoh hanya untuk permintaan para peternak walet, sekarang mereka bisa jual salak pondoh sendiri sebagai oleh-oleh khas Jogja,” papar Pak Nugroho.

Pak Nugroho selalu mengikuti trend. Ketika orang suka kelinci atau anjing, dia pun menyesuaikan diri. Waktu orang-orang mulai suka kelinci, dia mendatangkan kelinci jenis lain dari luar negeri. Ketika orang hobi beternak anjing, dia langsung beli anjing Kintamani dari Bali . Jika ada hewan piaraan yang baru ke Indonesia , dia langsung membuat buku tentang cara beternak. Tidak heran bila buku-bukunya terbilang diburu oleh para peternak hewan piaraan.

Kendati suah menjadi pengusaha sukses, Pak Nugroho tidak lupa peran istrinya dalam memajukan usahanya. “Saat saya masih jadi dosen, istri saya sungguh luar biasa. Sambil buka toko makanan ternak, dia juga jualan sembako. Tidak lama kemudian istri saya didatangi pegawai Pemda Kota. Dia menanyakan izin usaha. Istri saya menjawab bahwa suaminya dosen, bayarannya nggak cukup. Usha ini hanya buat tambahan Kalau dimintai izin, jelas nggak ada. Malu isteri saya waktu itu, tapi itu kenangan yang indah,” tambah Pak Nugroho.

Bagi Pak Nugroho sendiri, awal merintis perusahaan memang berat. Apalagi modalnya tidak cukup. “Berat lho dulu, modal nggak punya. Kalau saya kulakan beras paling hanya bisa 20 kilo. Saya tidak mau kulakan di pasar tapi langsung ke penggilingan. Saya bawa pake scooter saya Berasnya saya boncengkan,” kenang suami Iswanti ini.

Dalam membesarkan perusahannya, Pak Nugroho bukan tak menghadapi hambatan. Hambatan utama dihadapinya adalah salah persepsi tentang perkiraan jenis hewan impor yang bisa diternak di Indonesia . “Biasanya pada perkiraan jenis hewan impor yang bisa diternak di Indonesia karena sebaliknya ternyata hewan yang kita ambil tidak bisa diternak di sini,” ujar Pak Nugroho.

Sekalipun kini sudah menjadi seorang pengusaha sukses, Pak Nugroho belum merasa bahwa dia sudah sukses. “Perasaan saya, saya tidak merasa sukses. Saya hanya menjalankan apa yang patut dijalankan. Saya sudah mendapat sekolah banyak sekali. Banyak banyak matakuliah yang saya pelajari. Dulu susahnya bukan main. Sekolahnya juga susah. Apa yang saya pelajari, saya terapkan,” papar Pak Nuroho (wawancara dan penulisan: Gusti Grehenson; editing: Abrar).

Eko Wakradiharja Tidak Mau Jadi Robot Kompas/ninuk mp.

IA bukan pengusaha dengan omzet milyaran rupiah. Namun, Eko Wakradiharja adalah sumber inspirasi dan tempat bertanya para peternak ayam bukan ras-ayam kampung istilah umumnya-di Indonesia, tempat bertanya para profesional yang menjelang pensiun atau mereka yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), mereka yang baru lulus perguruan tinggi dan ingin berwirausaha, bahkan sarjana peternakan dan juga doktor bidang peternakan.

Ia kenyang makan asam-garam bisnis ayam, memproduksi telur dan daging ayam, memproduksi pakan, sampai menghitung kekuatan pasar. Naluri wirausaha Eko tak kalah dibanding pengusaha ulung, sehingga ia dipilih menjadi kontak tani andalan nasional karena menjadi contoh petani yang kreatif membaca pasar. Ia mengembangkan usahanya dari memelihara ayam petelur menjadi agrobisnis yang menghasilkan daging ayam, jamu untuk ayam, pakan ayam, buku panduan beternak ayam yang dipesan juga sampai di Brunei Darussalam dan Singapura, sampai paket pelatihan beternak ayam buras, dan menjual ayam bakar.

"Peserta pelatihan di tempat saya mulai dari karyawan menjelang pensiun sampai sarjana baru lulus yang mau usaha sendiri. Ada juga sarjana peternakan dan dokter hewan yang magang di sini," kata Eko.

Yang jelas, usaha ternak ayamnya itu mampu membiayai sekolah Eko Mediarto dan Hadi Susilo, anak-anak buah pernikahannya dengan Mugiarti, hingga tamat dari perguruan tinggi swasta di Jakarta .

LAKI-laki kelahiran Tegal pada 12 Juni 1936 ini semula tidak pernah membayangkan akan menjadi kontak tani andalan nasional. Ia lulus Sekolah Teknik Menengah (STM) Tegal di bidang bangunan dan kemudian bekerja dalam beberapa proyek di Bandung dan Jakarta .

Pecahnya peristiwa 30 September 1965 menyebabkan mata pencaharian Eko ikut berantakan, karena banyak proyek pembangunan macet. Eko lalu banting setir menjadi pemasok besi beton untuk PT Perhutani di Madiun, Jawa Timur. "Bayarnya dengan kayu jati karena waktu itu ekspor jati kita juga berhenti akibat G30S," kenang Eko.

IHWAL menjadi peternak dimulai ketika pindah ke Bogor . Di kota itu ia berkenalan dengan ahli virologi unggas, drh Sugeng, dan mulai tertarik pada ayam. Sementara menunggu kayu jatinya datang dari Madiun yang kadang-kadang butuh waktu 15 hari, Eko sering diajak mengobrol oleh drh Sugeng yang dengan terbuka membagi ilmunya untuk siapa saja yang tertarik memelihara ayam.

"Suatu hari saya diberi enam ekor ayam hasil uji vaksin. Ayam itu lalu saya kawin-kawinkan. Saya juga membeli ayam-ayam lain, sehingga dalam setahun ayam saya menjadi 300 ekor," kenang Eko yang perlahan-lahan menekuni usaha ayam negeri petelur. Pesan Pak Sugeng, "Tolong perkenalkan masyarakat Jakarta dengan ayam negeri."

Pada akhir 1960-an, pesan tersebut sangat masuk akal. Ayam ras belum populer di kalangan peternak maupun konsumen. Tahun 1969 Eko pindah ke Jakarta dan ikut mendirikan Persatuan Peternak Unggas Indonesia (PPUI) dengan ketuanya Sri Mulyono Herlambang. Di antara rekan sesama peternak ayam negeri petelur adalah Bob Sadino yang kemudian sukses sebagai pengusaha agroindustri.

Kesempatan bagi Eko melaksanakan pesan "guru"-nya datang ketika tahun 1971 Presiden Soeharto mengadakan pameran unggas di halaman kantor Sekretaris Negara di Jakarta Pusat. "Di pameran itu, telur ayam negeri saya jual Rp 200 per kilo. Telur saya laku keras, tetapi diprotes teman-teman karena lebih rendah dari harga rata-rata," tutur Eko.

Eko menjelaskan, ia menjual dengan harga tersebut karena peternakannya kebanjiran telur ayam negeri hasil tampungan dari peternak-peternak lain. Bahkan, ketika itu pun Eko sudah melihat, keuntungan bisnis ayam bukan cuma dengan menjadi peternak, tetapi dari industri ikutannya. Saat itu Eko sudah memasok pakan ayam untuk peternak lain dan ia mendapat telur dari para peternak itu.

"Ketika itu tidak ada pabrik roti yang mau ambil telur negeri. Toko dan warung pun tidak mau terima, dititipi saja menolak," kenang Eko. Karena harus menjual telur yang menumpuk, Eko memilih tidak mendapat untung dari telur, tetapi tetap bisa menjual pakan.

MASA kejayaan peternak dengan modal seadanya seperti Eko ternyata tidak lama. Setelah telur ayam negeri semakin populer masuk pemodal besar, antara lain mantan Menteri Keuangan Radius Prawiro dan juga perusahaan besar asal Thailand Charoen Pokphand.

"Saya mulai mengantisipasi pakan ayam buatan saya akan sulit bersaing dengan mereka yang besar-besar. Saya putar haluan memelihara ayam buras. Tahun 1973 seluruh ayam negeri petelur saya yang 3.000 ekor sudah berganti jadi ayam buras," jelas Eko.

Tahun 1978 ia membuat kelompok peternak ayam buras Jaya Satria di Jagakarsa yang beranggotakan 32 peternak. Kalau sebelumnya ia ikut gencar memperkenalkan ayam negeri, kini ia mempromosikan ayam bukan ras (buras). "Dalam pameran Litbang Departemen Pertanian tahun 1978, kami memamerkan anak ayam bakalan. Diberi tulisan DOC (day old chick) ayam kampung. Di antara pengunjung ada rombongan anak sekolah. Mereka nyeletuk, ''Ayam kampung kok dipamerin.'' Saya terkena sekali. Lalu cepat-cepat saya ganti labelnya jadi ayam buras super. Cukup dengan kata super, orang lalu berubah persepsi. Padahal, ya, sama juga, itu ayam kampung," kata Eko.

Eko terus belajar sambil praktik. Di sektor produksi ia belajar bahwa ayam kampung petelur yang baik adalah yang lebar perutnya (empat jari dari tulang dada). Ia juga coba menyilangkan ayam kampung dengan ayam lokal lain, antara lain ayam arab yang sangat produktif bertelur tetapi usia produktifnya pendek, untuk mendapatkan ayam kampung yang berkurang sifat senang mengeramnya.

Semua pengetahuan itu dibeberkannya kepada peserta pelatihan di tempatnya di Jagakarsa, Jakarta Selatan, sampai ke hitungan ekonomi usaha. "Tidak ada yang saya rahasiakan. Saya juga ajarkan cara membuat jamu sendiri untuk membuat kuning telur lebih besar, ayam lebih sehat dan kotorannya tidak berbau. Tetangga saya jenderal, kalau kotoran ayam saya bau, dia pasti sudah protes," kata Eko.

Tentang jamu untuk ayam ini Eko pun berangkat dari pengalamannya yang merasa sehat karena minum jamu. Mula-mula ia membuat jamu ayam dari kunyit dan bawang putih, tetapi sekarang ramuan itu telah bertambah dengan kencur, laos , jahe, daun sirih, temu lawak, kayu manis, tetes tebu, dan mikroba.

Sekarang ia mengajarkan peternak untuk mendaur ulang kotoran ayam terkait sebagai pakan. "Asal dijemur kering dan ayamnya dikasih jamu, kotoran itu tidak bau dan bisa mengganti sampai 20 persen pakan. Ayam juga tumbuh lebih cepat," katanya.

Eko mengaku tidak takut bersaing dengan peternak ayam negeri berskala besar. "Orang akan terus cari ayam kampung karena lemaknya lebih sedikit dari ayam negeri. Buktinya ada orang Singapura beli buku cara beternak ayam dari saya," katanya optimistis.

Bersama 75 peternak lain yang bergabung dalam Asosiasi Ayam Buras Indonesia ia mencoba memasuki Batam dengan tujuan akhir Singapura. Menurut Eko, orang Singapura sekarang mencari ayam kampung karena lemaknya lebih sedikit dari ayam negeri. Tetapi, ia tidak mau langsung masuk ke pasar Singapura karena takut diakali.

"Menjadi peternak ayam atau petani, bisa menguntungkan dan bisa hidup layak. Yang selalu saya katakan kepada teman-teman, jadilah petani kreatif, jangan petani robot. Petani harus pandai-pandai mengubah pola pikir, sensitif membaca pasar," katanya. (Ninuk M Pambudy)

MURI Anugerahkan Penghargaan untuk Ayam Cantik Oleh Saufat Endrawan

Bandung - Ayam ini sering dijuluki ayam cantik dan manja, selain jenggernya yang memerah juga dihiasi oleh bulunya yang berwarna-warni lebat dan terlihat mengkilat. Ini dikarenakan sejak usianya satu hari hingga menginjak dewasa terus-menerus diberi makanan yang berasal dari ramuan umbi-umbian dan tumbuh-tumbuhan, serta tepung ikan tanpa pengawet. Minumnya pun setiap hari diberi ramuan jamu yang terdiri dari 400 macam, yang bahannya dibawa langsung dari Taiwan .

Selain itu, ayam betina yang diambil dari keturunan ayam Arab ini tidak pernah mengenal vaksin dan hidupnya pun di kandang yang bertingkat atau yang dijuluki oleh peternaknya sebagai “Apartemen Ayam” dengan suasana yang ramah lingkungan.

Jadi wajarlah, jika pakan yang dikonsumsinya sangat organik dan kandangnya pun cukup representatif sehingga menghasilkan kualitas telur yang bagus. Dengan hasil ini, tidak sia-sialah pengorbanan yang dilakukan peternak ayam kampung petelur, Eddy Soekwanto dan anaknya, Johnson Soekwanto, yang menempatkan lokasi peternakannya di Jalan Radio, Dayeukolot, Bandung .

Sejak dua tahun ini, 6.000 ayam kampung petelur telah dipeliharanya. Dari jumlah tersebut produksi telur yang dihasilkan rata-rata mencapai 60.000 butir/bulan. Untuk memelihara ayam sebanyak itu, dibutuhkan lahan seluas 2 hektare persegi. Tempat untuk tinggal dan bertelurnya ayam di kandang “Apartamen Ayam”, masing-masing ayam disediakan kandang yang luasnya 30 cm x 25 cm. Sedangkan untuk mengawinkan ayam, satu ayam pejantan dikawinkan dengan lima ayam betina dikandang yang luasnya 1,5 m x 2 m.

Ternyata dari hasil uji yang dilakukan Instalasi Laboratorium Pascapanen Bogor, yang diketuai L Sukarno, telur yang diproduksi ayam petelur ini mengandung antioksi dan dengan beta karoten, dan setiap 100 gr telur yang dihasilkan terkandung pula energi sebanyak 104,52 kal, protein 7,19 gr, lemak 5,24 gr, EPA, DHA 91,090 mg, LNA 123,89 mg Omega-3 214,23 mg, beta karoten 300 Ugrm.

Dengan produksi telur kampung yang berbeda kandungan dengan yang dihasilkan ayam milik peternak-peternak lainnya, baik yang ada di Indonesia maupun negara lain, Museum Rekor Indonesia (MURI), Kamis (21/9) lalu, menganugerahi piagam penghargaan kepada perusahaan peternakan ayam kampung PT Farming Jaya, sebagai produsen pertama telur ayam kampung yang mengandung antioksida dengan beta karoten.

Ciri telur ayam kampung yang diproduksi peternakan PT Farming Jaya ini, mempunyai kulit yang tidak mudah pecah, kulitnya tebal, dan kuning telurnya terlihat berwarna merah. Jika kita tumpahkan atau telur dipecah, gumpalan merah telurnya tidak pecah. Ini membuktikan bahwa di dalam merah telurnya terdapat bahan-bahan yang tidak dimiliki telur ayam lainnya.

Tambah Daya Tahan

Jika kita memberanikan diri memakannya mentah-mentah, saat berada di dalam mulut telur tersebut tidak terasa anyir dan terasa ada rasa manis. Ketika direbus dengan mie, gumpalan telurnya pun tidak terpisah. Konon, menurut pengakuan Eddy Soekwanto, jika memakan satu butir telur ayam kampung ini dicampur dengan madu murni, akan menambah daya tahan saat melakukan hubungan seks.

“Saya pernah mencobanya, ternyata saat berhubungan seks daya tahan semakin meningkat. Tapi jangan lebih dari dua, karena saking kuatnya membuat bibir saya pecah-pecah,” kata Eddy bergurau.

Johnson Soekwanto, kepada SH, di lokasi peternakannya mengatakan, sebelum berencana beternak ayam petelur ini, sebelumnya telah melakukan penelitian ke Taiwan , terutama penelitian dalam membuat pangan dan minuman ayam yang baik. “Kenapa keluarga kami melakukan penelitian ke Taiwan , karena sejak beberapa tahun ini ternyata di Taiwan tidak pernah diberitakan ada terjadi kasus flu burung. Karena cara memelihara unggas dan memberikan pakan serta minuman sangat apik. Maka kebersihan unggas dapat terjaga hingga tidak mengalami sakit yang berujung kepada penyakit yang membahayakan seperti flu burung,” jelasnya.

“Dari hasil penelitian di Taiwan yang kemudian diterapkan di Bandung, alhasil peternakan kami telah mendapatkan rekomendasi dari Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bandung, juga dari Dinas Peternakan UPTD Balai Penyidikan Penyakit Hewan dan Kesmavet Provinsi Jawa Barat (Jabar) bahwa ayam yang ada pada kami sehat dan bebas dari penyakit menular,” lanjutnya.

BUDIDAYA BROILER

1. Sejarah Singkat

Ayam ras pedaging disebut juga broiler, yang merupakan jenis ras unggulan hasil persilangan dari bangsa-bangsa ayam yang memiliki daya produktivitas tinggi, terutama dalam memproduksi daging ayam. Sebenarnya ayam broiler ini baru populer di Indonesia sejak tahun 1980-an dimana pemegang kekuasaan mencanangkan panggalakan konsumsi daging ruminansia yang pada saat itu semakin sulit keberadaannya. Hingga kini ayam broiler telah dikenal masyarakat Indonesia dengan berbagai kelebihannya. Hanya 5-6 minggu sudah bisa dipanen. Dengan waktu pemeliharaan yang relatif singkat dan menguntungkan, maka banyak peternak baru serta peternak musiman yang bermunculan diberbagai wilayah Indonesia .

2. Sentra Peternakan

Ayam telah dikembangkan sangat pesat disetiap negara. Di Indonesia usaha ternak ayam pedaging juga sudah dijumpai hampir disetiap propinsi.

3. Jenis

Dengan berbagai macam strain ayam ras pedaging yang telah beredar dipasaran, peternak tidak perlu risau dalam menentukan pilihannya. Sebab semua jenis strain yang telah beredar memiliki daya produktifitas relatif sama. Artinya seandainya terdapat perbedaan, perbedaannya tidak menyolok atau sangat kecil sekali. Dalam menentukan pilihan strain apa yang akan dipelihara, peternak dapat meminta daftar produktifitas atau prestasi bibit yang dijual di Poultry Shoup. Adapun jenis strain ayam ras pedaging yang banyak beredar di pasaran adalah: Super 77, Tegel 70, ISA, Kim cross, Lohman 202, Hyline, Vdett, Missouri, Hubbard, Shaver Starbro, Pilch, Yabro, Goto, Arbor arcres, Tatum, Indian river, Hybro, Cornish, Brahma, Langshans, Hypeco-Broiler, Ross, Marshall”m”, Euribrid, A.A 70, H&N, Sussex, Bromo, CP 707.

4. Manfaat

Manfaat beternak ayam ras pedaging antara lain, meliputi:

  1. penyediaan kebutuhan protein hewani
  2. pengisi waktu luang dimasa pensiun
  3. pendidikan dan latihan (diklat) keterampilan dikalangan remaja
  4. tabungan di hari tua
  5. mencukupi kebutuhan keluarga (profit motif)

5. Persyaratan Lokasi

a. Lokasi yang cukup jauh dari keramaian/perumahan penduduk.

b. Lokasi mudah terjangkau dari pusat-pusat pemasaran.

c. Lokasi terpilih bersifat menetap, artinya tidak mudah terganggu oleh keperluan-keperluan lain selain untuk usaha peternakan.

6. Pedoman Teknis Budidaya

Sebelum usaha beternak dimulai, seorang peternak wajib memahami 3 (tiga) unsur produksi yaitu: manajemen (pengelolaan usaha peternakan), breeding (pembibitan) dan feeding (makanan ternak/pakan).

6.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan

Perkandangan

Sistem perkandangan yang ideal untuk usaha ternak ayam ras meliputi: persyaratan temperatur berkisar antara 32,2-35 derajat C, kelembaban berkisar antara 60-70%, penerangan/pemanasan kandang sesuai dengan aturan yang ada, tata letak kandang agar mendapat sinar matahari pagi dan tidak melawan arah mata angin kencang, model kandang disesuaikan dengan umur ayam, untuk anakan sampai umur 2 minggu atau 1 bulan memakai kandang box, untuk ayam remaja ± 1 bulan sampai 2 atau 3 bulan memakai kandang box yang dibesarkan dan untuk ayam dewasa bisa dengan kandang postal atapun kandang bateray. Untuk kontruksi kandang tidak harus dengan bahan yang mahal, yang penting kuat, bersih dan tahan lama.

Peralatan

a. Litter (alas lantai)

Alas lantai/litter harus dalam keadaan kering, maka tidak ada atap yang bocor dan air hujan tidak ada yang masuk walau angin kencang. Tebal litter setinggi 10 cm, bahan litter dipakai campuran dari kulit padi/sekam dengan sedikit kapur dan pasir secukupnya, atau hasi serutan kayu dengan panjang antara 3–5 cm untuk pengganti kulit padi/sekam.

b. Indukan atau brooder

Alat ini berbentuk bundar atau persegi empat dengan areal jangkauan 1-3 m dengan alat pemanas di tengah. Fungsinya seperti induk ayam yang menghangatkan anak ayamnya ketika baru menetas.

c. Tempat bertengger (bila perlu)

Tempat bertengger untuk tempat istirahat/tidur, dibuat dekat dinding dan diusahakan kotoran jatuh ke lantai yang mudah dibersihkan dari luar. Dibuat tertutup agar terhindar dari angin dan letaknya lebih rendah dari tempat bertelur.

d. Tempat makan, minum dan tempat grit

Tempat makan dan minum harus tersedia cukup, bahannya dari bambu, almunium atau apa saja yang kuat dan tidak bocor juga tidak berkarat. Untuk tempat grit dengan kotak khusus.

e. Alat-alat rutin

Alat-alat rutin termasuk alat kesehatan ayam seperti: suntikan, gunting operasi, pisau potong operasi kecil, dan lain-lain.

6.2. Pembibitan

Ternak yang dipelihara haruslah memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a. ternak sehat dan tidak cacat pada fisiknya

b. pertumbuhan dan perkembangannya normal

c. ternak berasal dari pembibitan yang dikenal keunggulannya.

d. tidak ada lekatan tinja di duburnya.

Pemilihan Bibit dan Calon Induk

Ada beberapa pedoman teknis untuk memilih bibit/DOC (Day Old Chicken)/ayam umur sehari:

a. Anak ayam (DOC ) berasal dari induk yang sehat.

b. Bulu tampak halus dan penuh serta baik pertumbuhannya .

c. Tidak terdapat kecacatan pada tubuhnya.

d. Anak ayam mempunyak nafsu makan yang baik.

e. Ukuran badan normal, ukuran berat badan antara 35-40 gram.

f. Tidak ada letakan tinja diduburnya.

Perawatan Bibit dan Calon Induk

Dilakukan setiap saat, bila ada gejala kelainan pada ternak supaya segera diberi perhatian secara khusus dan diberikan pengobatan sesuai petunjuk Dinas Peternakan setempat atau dokter hewan yang bertugas di daerah yang bersangkutan.

6.3. Pemeliharaan

Pemberian Pakan dan Minuman

Untuk pemberian pakan ayam ras broiler ada 2 (dua) fase yaitu fase starter (umur 0-4 minggu) dan fase finisher (umur 4-6 minggu).

a. Kualitas dan kuantitas pakan fase starter adalah sebagai berikut:

o kualitas atau kandungan zat gizi pakan terdiri dari protein 22-24%, lemak 2,5%, serat kasar 4%, Kalsium (Ca) 1%, Phospor (P) 0,7-0,9%, ME 2800-3500 Kcal.

o kuantitas pakan terbagi/digolongkan menjadi 4 (empat) golongan yaitu minggu pertama (umur 1-7 hari) 17 gram/hari/ekor, minggu kedua (umur 8-14 hari) 43 gram/hari/ekor, minggu ke-3 (umur 15-21 hari) 66 gram/hari/ekor dan minggu ke-4 (umur 22-29 hari) 91 gram/hari/ekor.

Jadi jumlah pakan yang dibutuhkan tiap ekor sampai pada umur 4 minggu sebesar 1.520 gram.

b. Kualitas dan kuantitas pakan fase finisher adalah sebagai berikut:

o kualitas atau kandungan zat gizi pakan terdiri dari protein 18,1-21,2%; lemak 2,5%, serat kasar 4,5%, kalsium (Ca) 1%, Phospor (P) 0,7-0,9% dan energi (ME) 2900-3400 Kcal.

o kuantitas pakan terbagi/digolongkan dalam empat golongan umur yaitu: minggu ke-5 (umur 30-36 hari) 111 gram/hari/ekor, minggu ke-6 (umut 37-43 hari) 129 gram/hari/ekor, minggu ke-7 (umur 44-50 hari) 146 gram/hari/ekor dan minggu ke-8 (umur 51-57 hari) 161 gram/hari/ekor. Jadi total jumlah pakan per ekor pada umur 30-57 hari adalah 3.829 gram.

Pemberian minum disesuaikan dangan umur ayam yang dikelompokkan dalam 2 (dua) fase yaitu:

ü Fase starter (umur 1-29 hari), kebutuhan air minum terbagi lagi pada masing-masing minggu, yaitu minggu ke-1 (1-7 hari) 1,8 lliter/hari/100 ekor; minggu ke-2 (8-14 hari) 3,1 liter/hari/100 ekor, minggu ke-3 (15-21 hari) 4,5 liter/hari/100 ekor dan minggu ke-4 (22-29 hari) 7,7 liter/hari/ekor. Jadi jumlah air minum yang dibutuhkan sampai umur 4 minggu adalah sebanyak 122,6 liter/100 ekor. Pemberian air minum pada hari pertama hendaknya diberi tambahan gula dan obat anti stress kedalam air minumnya. Banyaknya gula yang diberikan adalah 50 gram/liter air.

ü Fase finisher (umur 30-57 hari), terkelompok dalam masing-masing minggu yaitu minggu ke-5 (30-36 hari) 9,5 liter/hari/100 ekor, minggu ke-6 (37-43 hari) 10,9 liter/hari/100 ekor, minggu ke-7 (44-50 hari) 12,7 liter/hari/100 ekor dan minggu ke-8 (51-57 hari) 14,1 liter/hari/ekor. Jadi total air minum 30-57 hari sebanyak 333,4 liter/hari/ekor.

Pemeliharaan Kandang

Kebersihan lingkungan kandang (sanitasi) pada areal peternakan merupakan usaha pencegahan penyakit yang paling murah, hanya dibutuhkan tenaga yang ulet/terampil saja. Tindakan preventif dengan memberikan vaksin pada ternak dengan merek dan dosis sesuai catatan pada label yang dari poultry shoup. Agar bangunan kandang dapat berguna secara efektif, maka bangunan kandang perlu dipelihara secara baik yaitu kandang selalu dibersihkan dan dijaga/dicek apabila ada bagian yang rusak supaya segera disulam/diperbaiki kembali. Dengan demikian daya guna kandang bisa maksimal tanpa mengurangi persyaratan kandang bagi ternak yang dipelihara.

7. Hama Dan Penyakit

7.1 Penyakit

1. Berak darah (Coccidiosis)

Gejala: tinja berdarah dan mencret, nafsu makan kurang, sayap terkulasi, bulu kusam menggigil kedinginan.

Pengendalian: (1) menjaga kebersihan lingkungaan, menjaga litter tetap kering; (2) dengan Tetra Chloine Capsule diberikan melalui mulut; Noxal, Trisula Zuco tablet dilarutkan dalam air minum atau sulfaqui moxaline, amprolium, cxaldayocox.

2. Tetelo (NCD/New Casstle Diseae)

Gejala: ayam sulit bernafas, batuk-batuk, bersin, timbul bunyi ngorok, lesu, mata ngantuk, sayap terkulasi, kadang berdarah, tinja encer kehijauan yang spesifik adanya gejala “tortikolis”yaitu kepala memutar-mutar tidak menentu dan lumpuh.

Pengendalian: (1) menjaga kebersihan lingkungan dan peralatan yang tercemar virus, binatang vektor penyakit tetelo, ayam yang mati segera dibakar/dibuang; (2) pisahkan ayam yang sakit, mencegah tamu masuk areal peternakan tanpa baju yang mensucihamakan/ steril serta melakukan vaksinasi NCD. Sampai sekarang belum ada obatnya

7.2 Hama

Tungau (kutuan)

Gejala: ayam gelisah, sering mematuk-matuk dan mengibas-ngibaskan bulu karena gatal, nafsu makan turun, pucat dan kurus.

Pengendalian: (1) sanitasi lingkungan kandang ayam yang baik; pisahkan ayam yang sakit dengan yang sehat; (2) dengan menggunakan karbonat sevin dengan konsentrasi 0,15% yang encerkan dengan air kemudian semprotkan dengan menggunakan karbonat sevin dengan konsentrasi 0,15% yang encerkan dengan air kemudian semprotkan ketubuh pasien. Dengan fumigasi atau pengasepan menggunakan insektisida yang mudah menguap seperti Nocotine sulfat atau Black leaf 40.

8. Panen

8.1. Hasil Utama

Untuk usaha ternak ayam pedaging, hasil utamanya adalah berupa daging ayam

8.2. Hasil Tambahan

Usaha ternak ayam broiler (pedaging) adalah berupa tinja atau kotoran kandang dan bulu ayam.

9. Pasca Panen

9.1. Stoving

Penampungan ayam sebelum dilakukan pemotongan, biasanya ditempatkan di kandang penampungan (Houlding Ground)

9.2. Pemotongan

Pemotongan ayam dilakukan dilehernya, prinsipnya agar darah keluar keseluruhan atau sekitar 2/3 leher terpotong dan ditunggu 1-2 menit. Hal ini agar kualitas daging bagus, tidak mudah tercemar dan mudah busuk.

9.3. Pengulitan atau Pencabutan Bulu

Caranya ayam yang telah dipotong itu dicelupkan ke dalam air panas (51,7- 54,4 derajat C). Lama pencelupan ayam broiler adalah 30 detik. Bulu-bulu yang halus dicabut dengan membubuhkan lilin cair atau dibakar dengan nyala api biru.

9.4. Pengeluaran Jeroan

Bagian bawah dubut dipotong sedikit, seluruh isi perut (hati, usus dan ampela) dikeluarkan. Isi perut ini dapat dijual atau diikut sertakan pada daging siap dimasak dalam kemasan terpisah.

9.5. Pemotongan Karkas

Kaki dan leher ayam dipotong. Tunggir juga dipotong bila tidak disukai. Setelah semua jeroan sudah dikeluarkan dan karkas telah dicuci bersih, kaki ayam/paha ditekukan dibawah dubur. Kemudian ayam didinginkan dan dikemas

10. Analisis Ekonomi Budidaya Tanaman

10.1 Analisis Usaha Budidaya

Dasar perhitungan biaya yang dikeluarkan dan pendapatan yang diperoleh dalam analisis ini, antara lain adalah:

a) jenis ayam yang dipelihara adalah jenis ayam ras pedaging (broiler) dari strain CP.707.

b) sistem pemeliharaan yang diterapkan dengan cara intensif pada kandang model postal

c) luas tanah yang digunakan yaitu 200 m2 dengan nilai harga sewa tanah dalam 1 ha/tahun adalah Rp 1.000.000,-.

d) kandang terbuat dari kerangka bambu, lantai tanah, dinding terbuat dari bilah-bilah bambu denga alas dinding setinggi 30 cm, terbuat dari batu bata yang plester dan atap menggunakan genting.

e) ukuran kandang, yaitu tinggi bagian tepinya 2,5 m, lebar kandang 5 m dan lebar bagian tepi kandang 1,5 m.

f) lokasi peternakan dekat dengan sumber air dan listrik.

g) menggunakan alat pemanas (brooder) gasolec dengan bahan bakar gas.

h) penerangan dengan lampu listrik.

i) umur ayam yaitu dimulai dari bibit yang berumur 1 hari

j) litter/alas kandang menggunakan sekam padi.

k) jenis pakan yang diberikan adalah BR-1 untuk anak ayam umur 0-4 minggu dan BR-2 untuk umur 4-6 minggu.

l) tingkat kematian ayam diasumsikan 6%.

m) lama masa pemeliharaan yaitu 6 minggu (42 hari).

n) berat rata-rata per ekor ayam diasumsikan 1,75 kg berat hidup pada saat panen.

o) harga ayam per kg berat hidup, yaitu diasumsikan Rp 2500,-, walau kisaran harga sampai mencapai Rp 3000,- ditingkat peternak/petani.

p) ayam dijual pada umur 6 mingu atau 42 hari.

q) nilai pupuk kandang yaitu Rp 60.000,-.

r) bunga Bank yaitu 1,5%/bulan

s) nilai penyusutan kandang diperhitungkan dengan kekuatan masa pakai 6 tahun dan nilai penyusutan peralatan diperhitungkan dengan masa pakai 5 tahun.

t) perhitungan analisis biaya ini hanya diperhitungkan sebagai Pedoman dasar, karena nilai/harga sewaktu-waktu dapat mengalami perubahan.

Adapun rincian biaya produksi dan modal usaha tani adalah sebagai berikut :

1) Biaya prasarana produksi

a. Sewa tanah 200 m2 selama 2 bulan Rp. 20.000,-

b. Kandang ukuran 20 x 5 m

Ø Bambu 180 batang @ Rp 1250, Rp. 225.000,-

Ø Semen 4 zak @ Rp 7000, Rp. 28.000,-

Ø Kapur 30 zak @ Rp 6000, Rp. 18.000,-

Ø Genting 2600 bh @ Rp 90, Rp. 234.000,-

Ø Paku reng 5 kg @ Rp 2000, Rp. 10.000,-

Ø Paku usuk 7000 kg @ Rp 1800, Rp. 12.600,-

Ø Batu bata 1000 buah @ Rp 55, Rp. 55.000,-

Ø Pasir 1 truk Rp. 230.000,-

Ø Tali 28 meter @ Rp 5000, Rp. 14.000,-

Ø Tenaga kerja Rp. 400.000,-

c. Peralatan

Ø Tempat pakan 28 bh @ Rp 5000, Rp. 140.000,-

Ø Tempat minum 32 bh @ Rp 3880, Rp. 124.000,-

Ø Sekop 1 bh Rp. 7.000,-

Ø Ember 2 bh @ Rp 2000, Rp. 4.000,-

Ø Tong bak air 1 bh Rp. 15.000,-

Ø Ciduk 2 bh @ Rp 500, Rp. 1.000,-

Ø Tabung gas besar 1 bh Rp. 250.000,-

Ø Thermometer 1 bh Rp. 2.000,-

Ø Regulator 1 bh Rp. 52.500,-

Ø Brooder (gasolec) 1 bh Rp. 15.000,-

Ø Tali gantung tmp pakan 120 m @Rp 500,- Rp. 60.000,-

Jumlah biaya prasarana produksi Rp. 2.052.000,-

2) Biaya sarana produksi

a. Bibit DOC 1000 bh @ Rp 900,- Rp. 900.000,-

b. Pakan dan obat-obatan

Ø BR-1 31 zak (0-4 minggu) @Rp 36.000, Rp. 1.116.000,-

Ø BR-2 34 zak (4-6 mingu) @ Rp 34.000, Rp. 1.156.000,-

Ø obat-obatan @ Rp 150,-/ekor Rp. 150.000,-

c. Tenaga kerja pelihara 1,5 bln @ Rp 105.000,- Rp. 157.500,-

d. Lain-lain

Ø sekam padi alas kandang 1 truk @Rp 60.000,- Rp. 60.000,-

Ø karung goni bekas 32 kantong @ Rp 300,- Rp. 2.400,-

Ø pemakaian listrik selama 0-6 minggu Rp. 7.000,-

Ø pemakaian gas Rp. 10.000,-

Jumlah biaya prasarana produksi Rp. 3.583.900,-

3) Biaya produksi

a. Sewa tanah 200 m2 selama 2 bulan Rp. 20.000,-

b. Nilai susut prasarana produksi/2 bln

Ø Kandang Rp. 51.109,-

Ø Peralatan Rp 805.660,- : 30 Rp. 26.856,-

c. Bibit DOC 1000 ekor Rp. 900.000,-

d. Pakan dan obat-obatan Rp. 2.422.000,-

e. Tenaga kerja Rp. 157.500,-

f. lain-lain Rp. 104.400,-

g. Bunga modal 1,5% per bulan Rp. 84.543,-

h. Bulan modal 1,5 bulan Rp. 126.815,-

Jumlah biaya prasarana produksi Rp. 3.808.680,-

4) Pendapatan

a. Total produksi 1000X94%X1,75 kg X Rp 2500,- Rp. 4.112.500,-

b. Nilai Pupuk kandang Rp. 60.000,-

c. Jumlah pendapatan Rp. 4.172.500,-

d. Keuntungan Rp. 363.820,-

5) Parameter kelayakan usaha

a. BEP Volume Produksi = 870 ekor

b. BEP Harga Produksi Rp. 3.316.000,-

c. B/C Ratio = 1,09

d. ROI = 6,45 %

e. Rasio keuntungan terhadap pendapatan = 8,71 %

f. Tingkat pengembalian modal = 2,6 th.

10.2 Gambaran Peluang Agribisnis

Prospek agribisnis peternakan untuk ternak ayam broiler cukup baik dimana permintaan pasar selalu meningkat, sejalan dengan kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi hewani. Produksi ternak ayam broiler saat ini berkembang dengan pesat dan peluang pasar yang bisa dihandalkan.

23 comments :

1) Terima kasih webnya. Tolong ditambah lagi/dimunculkan perkembangan teknologi terbaru. by saiful muadin March 8, 2008 at 7:44 pm

2) terima kasih sarannya mas saiful, kalau ada info terbaru akan kita update. salam peternakan. by Junaidi Karo Karo Kacaribu March 21, 2008 at 10:06 am

3) salam kenal…….. terima kasih atas informasi tentang peternakannya by HENDRA SAPUTRA May 26, 2008 at 9:25 pm

4) wah, mantap nih kayanya thanks beritanya ya moga berguna by wahyu_indra June 20, 2008 at 6:22 pm

5) salam, kayaknya sih untung yaaa … kalau pasar lagi baik, apalagi mendekati lebaran by kenangandriyan July 29, 2008 at 6:51 pm

6) saya tertarik mempeljari bisnis ayam boiler. beberapa waktu yg lalu, saya mendengar adanya teknologi kandang ayam boiler dengan menggunakan kandang tingkat, dan pemberian pakan dengan teknologi mesin hisap. apa saya bisa mendapat referensinya? sekian dan terima kasih. by Mike August 11, 2008 at 2:45 pm

7) kalau budidaya telur bebek gimana? by didik susilo August 21, 2008 at 3:39 pm

8) saya bisa dapat nama2 perusahaan ternak ayam broiler untuk bermitra, saya punya kandang kapasitas 10.000 ekor di daerah subang. Terimakasih syam by syamsul bahri August 28, 2008 at 10:28 am

9) Pak Junaidi yang baik, saya minta info tempat pembelian gasolec untuk brooder. atau kemana kira2 saya bisa mencari pemanas gasolec? Trimakasih.. by helmi September 12, 2008 at 4:50 am

10) kalau masalah pembelian gasolek biasanya banyak dijual baru ataupun bekas pak helmi, kalau anda mau capek sedikit coba hubungi kantor-kantor cabang PT Pokphan, atau PT jafpa, atau perusahaan ternak lainnya, pasti mereka mempunyai barang yang anda cari, baik itu baru maupun setengah pakai. sekian dari saya, terima kasih. by Junaidi Karo Karo Kacaribu September 12, 2008 at 9:04 am

11) Mas boleh di tambah cara vaksinya pada umur berapa saja? by saiful muadin September 13, 2008 at 8:30 pm

12) vakwin untuk ayam broiler itu adanya pada umur 4 dan 21 hari mas, tetapi itu tergantung jenis ayam yang memproduksinya juga, salam kenal untuk mas saiful. by Junaidi Karo Karo Kacaribu September 14, 2008 at 7:32 am

13) Blog yang menarik dan informatif terutama buat insan peternakan. Namun Bang junaidi aku mo kasih saran sedikit ya..hendaknya ketika mempublish artikel orang lain tolong dicantumkan penulisnya atau sumbernya..kecuali itu tulisan anda sendiri..he…he… kan kasian orang lain nulis cape2 trus di catut orang tanpa mencantumkan penulisnya. terus terang aku menemukan 4-6 web/blog yang memposting artikel yang persis sama dengan postingan abang.tp mereka mencantumkan sumbernya. ok thats it. keep strugle bro by rudi is in the houze September 21, 2008 at 11:17 pm

14) cari gasolec dimana tolong info,daerah surakarta & semarang ,jateng. by eko October 30, 2008 at 10:58 am

15) assalamu’alaikum wr wb… disamping saya bekerja sebagai sopir mobil rental yang kadang ada kadang tidak jadi saya coba coba usaha sampingan beternak ayam kampung,saat ini saya memulai nya dengan 20 ekor ayam betina dan kira2 satu bulan lagi akan bertelor, dan saya ingin menetaskan nya.tolong dong pak bagi bagi informasinya tentang cara membesarkan anak ayam dan obat obatan nya. Terimakasih rusdi by rusdi October 30, 2008 at 8:46 pm

16) Di wancana tidak dilampirkan penyakit asites(pembengkakan pada perut ayam )apakah sudah ada obatnya ini dan bakteri, virus apa yang menyebapkan ini.bagaimana cara mengatasi masalah pada penyakit ini. by perdi November 11, 2008 at 10:20 pm

17) Nich dia yang I cari dari tadi Makasih Thx for All by Mendra Ardani December 28, 2008 at 11:03 am

18) makasih banget.blok ini sangat banyak sekali manfaatnya terutama untuk anak-anak peternakan.ok deh.salam kenal aja by riyanti riza yoma January 22, 2009 at 2:10 pm

19) pa saya mau beternak ayam… mohon penjelasannya… trimaksih.. kirim aja lewat email saya…. by yovi hidayatulloh February 27, 2009 at 10:47 am

20) bagaimana cara pengembangbiakan ayam boiler agar menghasilkan bobot yang ideal dan terhindar dari penyakit kirim ke email vpriatna@yahoo.co.id saya ucapka terima kasih by Vicky March 4, 2009 at 11:33 pm

21) apakah masih ada sistem PLASMA dalam bisnis ini kalau ada saya minta informasinya by Igo Muara March 5, 2009 at 3:25 pm

22) Kalo ada yang punya contoh perjanjian inti plasma ayam broiler, tlg dong kirim ke email saya. Teng kiyu by Arief Hartono March 16, 2009 at 11:13 am

23) kalo di Bali , bibit ayam broiler yang bagus dimana ya..? apa harus pesan ke Jawa langsung ato bgmn? Katanya ada bebrapa jenis bibit ayam unggulan, trus jenis apa yang paling bagus dan cocok buat memulai usaha? Trims untuk infonya