Kamis, Januari 21, 2010

Parafrase puisi RAMADHAN YANG RIMBUN

1.
Parafrase puisi

a.       
Parafrase langsung


 

RAMADHAN
YANG RIMBUN

 

Inilah
bulan madu (yang) paling indah,

Setubuh
(persetubuhan) termesra dari subuh sampai

langit
(menjadi) luluh. Ciuman terjernih (dari) sang kekasih

yang
memagut (mendekap;memeluk) ruh-ruh (orang) yang shalih.

 

 

Katakanlah!
(bahwa) Kau akan menggaulinya

sampai
segalanya (menjadi) cemburu. Sampai

tercapai
puncak-puncak kepuasanmu

menggeledah
seribu bulan, (dan) melengkapkan

kasidah
yang mengalun di dahan ampunan

 

Yakinlah!
(bahwa) Bunga-bunga (akan) mengirim

madu
lewat kumbang-kumbang-Nya

memaniskan
bulan yang disulam jarum

tajam.
Melengkapkan adzan dengan

sembilan
puluh sembilan nama Tuhan.

 

2001

 

(Sarabunis
Mubarok, Memasuki Peti Mati, 2005:27)


 

       
b. Parafrase tidak langsung

 

Bulan
Ramadhan adalah bulan yang layaknya bulan madu (Inilah bulan madu paling indah).
Pada bulan Ramadhan, orang-orang yang beriman mendapat perintah untuk
melaksanakan ibadah puasa (Ciuman terjernih sang kekasih

yang memagut ruh-ruh yang shalih). Sebagaimana
firman Allah Swt:

$yr'¯»tƒ
tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä |=ÏGä. ãNà6øn=tæ ãP$uÅ_Á9$#
$yJx. |=ÏGä. n?tã
úïÏ%©!$# `ÏB
öNà6Î=ö7s%
öNä3ª=yès9
tbqà)­Gs? ÇÊÑÌÈ


 Hai
orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan
atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.


 

Ibadah puasa tersebut dilaksanakan dimulai sejak
shubuh sampai maghrib (Setubuh termesra dari subuh sampai langit luluh).

Dalam
melaksanakan ibadah puasa, kita harus bersungguh-sunguh, menyerahkan jiwa dan
raga hanya pada-Nya (Kau akan menggaulinya sampai segalanya cemburu). Ibadah
puasa adalah ibadah yang penuh makna, yang wajib kita laksanakan sampai kita
mendapat hikmah dan ampunan (Sampai tercapai puncak-puncak kepuasanmu
menggeledah seribu bulan, melengkapkan kasidah yang mengalun di dahan ampunan).
Ampunan yang ditandai dengan datangnya suka cita umat Islam yang merayakan hari
lebaran, satu Syawal.

Sebagi
umat Islam, kita harus yakin bahwa apabila kita menjalankan ibadah puasa dengan
sebaik-baiknya, kita akan mendapat pahala dan kebaikan, kita akan mengetahui
intisari dari keindahan Bulan Ramadhan tersebut (Bunga-bunga mengirim madu lewat
kumbang-kumbang-Nya), sebab Bulan Ramadhan melatih kita untuk merasakan apa yang
dirasakan oleh orang-orang yang berlatar belakan ekonomi lemah (memaniskan bulan
yang disulam jarum tajam), dan keimanan pada Allah Swt yang ada pada diri kita
akan bertambah kuat (Melengkapkan adzan dengan sembilan puluh sembilan nama
Tuhan).


 


 

2.       
Analisis Puisi

a.       
Metode Puisi

1)
Diksi

Diksi
adalah pemilihan kata yang dilakukan oleh seorang pengarang dengan tujuan-tujuan
tertentu, seperti untuk menambah daya magis atau keinginan untuk menyampaikan
sesuatu melalui media bahasa.

Puisi yang berjudul Ramadhan Yang Rimbun ini
menggunakan diksi yang mencerminkan kekentalan nuansa religius pada diri
pengarang. Sebagai contoh: Ciuman terjernih sang kekasih yang memagut ruh-ruh
yang shalih
. Pengarang begitu cerdas memetaforkan perintah Alloh Swt untuk
menjalankan ibadah puasa dengan kalimat tersebut. Selain itu hanya dengan
kata-kata yang menurut pendapat penulis adalah kata yang sederhana, pengarang
dapat menambah daya magis puisi tersebut, hal ini disebabkan pengarang
mendayagunakan bahasa sebagai atmosfer puisi, sehingga siapapun yang membaca
puisi tersebut akan terbawa pada suasana penyerahan diri pengarang, kekaguman
pengarang, pemahaman pengarang terhadap bulan Ramadhan.

Menurut pendapat penulis, puisi ini terdiri dari 53
kata dalam tujuh kalimat, yaitu:

Inilah
bulan madu paling indah(1)

Setubuh
termesra dari subuh sampai

langit
luluh(2). Ciuman terjernih sang kekasih

yang
memagut ruh-ruh yang shalih(3).

 

Katakanlah!
Kau akan menggaulinya

sampai
segalanya cemburu(4). Sampai

tercapai
puncak-puncak kepuasanmu

menggeledah
seribu bulan, melengkapkan

kasidah
yang mengalun di dahan ampunan(5)

 

Yakinlah!
Bunga-bunga mengirim

madu
lewat kumbang-kumbang-Nya(6)

memaniskan
bulan yang disulam jarum

tajam.
Melengkapkan adzan dengan

sembilan
puluh sembilan nama Tuhan(7).


 

               
Kata-kata yang terdapat dalam puisi di atas merupakan kata-kata simbolik,
seperti:

·         
Bulan madu                            
: bulan Ramadhan

·         
Setubuh                  
: ibadah puasa

·         
Langit luluh                            
: maghrib

·         
Ciuman terjernih     :
perintah menjalankan ibadah puasa

·         
menggaulinya                         
: melaksanakan ibadah puasa

·         
bunga-bunga                           
: keindahan bulan Ramadhan

·         
madu                                      
: intisari, manisnya bulan Ramadhan

·         
jarum tajam                            
: kehidupan orang miskin


 

               


Kalimat-kalimat
tersebut mengandung unsur metafor yang akan dibahas pada pembahasan tentang
majas.


 

2)      
Pengimajian

Pengimajian adalah pengalaman indra pengarang yang
disajikan melalui kata atau susunan kata.

Puisi tersebut didominasi oleh pengalaman imaji
taktil (rasa) pengarang, seperti:

·         
Inilah bulan madu yang paling teduh.

·         
Ciuman terjernih dari sang kekasih.

·         
Sampai tercapai puncak-puncak kepuasanmu.

·         
Memaniskan bulan yang disulam jarum tajam.

Sedangkan imaji audio visual terlihat dalam kalimat
sebagai berikut:

·         
Melengkapkan kasidah yang mengalun di dahan ampunan.

·         
Bunga-bunga mengirim madu lewat kumbang-kumbang-Nya.

·         
Melengkapkan adzan dengan sembilan puluh sembilan nama Tuhan.

Dari uraian tentang pengimajian di atas, penulis
menyimpulkan bahwa puisi tersebut merupakan pengalaman pengarang tentang bulan
Ramadhan, sebab puisi tersebut didominasi oleh imaji taktil pengarang, sehingga
mencerminkan apa-apa yang telah pengarang rasakan bersama dengan bulan Ramadhan.


 

3)      
Kata
Konkret

Untuk
menimbulkan pengimajian pada sebuah puisi, pengarang harus menggunakan kata
pengongkret, sehingga segala pengalaman pengarang dapat ditransfer pada benak
pembaca. Dengan kata lain, kata konkret adalah kata yang dipilih pengarang untuk
memberikan bayangan nyata pada benak pembaca tentang sesuatu yang ingin
disampaikan pengarang.

               
Pada puisi yang berjudul Ramadhan Yang Rimbun tersebut, pengarang
memperkonkret suasana bulan ramadhan dengan kalimat Inilah bulan madu yang
paling teduh,
dengan membaca kalimat atau larik tersebut, dalam benak
pembaca terbayang bagaimana suasana bulan Ramadhan, yaitu kesejukan.

4)      
Bahasa
Figuratif

Penyair
menggunakan bahasa figuratif dalam sebuah puisi agar puisi tersebut lebih
prismatis.

Pada
puisi tersebut pengarang banyak menggunakan metafor untuk memprismatiskan
puisinya, seperti:

·         
Inilah bulan madu yang paling teduh.

·         
Ciuman terjernih dari sang kekasih.

·         
Sampai tercapai puncak-puncak kepuasanmu.

·         
Memaniskan bulan yang disulam jarum tajam.

·         
Melengkapkan kasidah yang mengalun di dahan ampunan.

Majas personifikasi terlihat dalam kalimat:

Bunga-bunga
mengirim madu lewat kumbang-kumbang-Nya.


 

5)      
Versifikasi

a.       
Rima

Dalam puisi Ramadhan Yang Rimbun, pengarang tidak
memperhatikan rima yang digunakan. Menurut pendapat penulis hal ini disebabkan
bahwa pengarang menitik beratkan pada daya magis yang dihasilkan 
oleh kata-kata yang merupakan sebuah simbol, tidak menekankan pada
keindahan bunyi.

Tetapi pada paragraf pertama pengarang menggunakan
jenis rima patah dengan pola a,b,b,b:

………………………………
indah,

……………………………..
sampai

……………………….
sang kekasih

……………………………… shalih

b.       
Ritma

Ritma mempunyai hubungan erat dengan bunyi dan
pengulangannya, tetapi penulis hanya menemukan keteraturan bunyi pada bait
pertama saja, sehingga penulis berpendapat bahwa puisi tersebut tidak menekankan
pada keindahan bunyi.

c.       
Metrum

Puisi yang berjudul Ramadhan Yang Rimbun ini,
menitik beratkan pada suasan ayang ditimbulkan oleh kekhusuan seseorang dalam
menafsirkan makna dari puisi tersebut. Metrum barkaitan erat dengan
pendeklamasian puisi, Puisi tersebut seandainya dibacakan dengan interpretasi
penulis maka akan dibacakan dengan cara mendayu-dayu sehingga menimbulkan
kekhusuan. Penekanan pada puisi tersebut adalah datar, atau semua bagian dibaca
hampir sama terkecuali pada kata-kata yang diberi tanda seru.


 

6)      
Tata
wajah

Puisi yang berjudul Ramadhan Yang Rimbun menggunakan
tifografi yang konvensional, atau seperti puisi-puisi modern lainnya, yaitu
tersusun dari larik-larik dan bait untuk membedakannya dengan genre sastra
lainnya.


 

b.       
Hakikat Puisi

1)      
Tema

Menurut
pendapat penulis, tema yang terdapat dalam puisi yang berjudul Ramadhan Yang
Rimbun adalah tema religius tentang bulan Ramadhan. Pengarang ngin berbagi
pengalaman tentang apa yang dia rasakan saat bulan Ramadhan datang.

Pendapat
penulis didukung oleh judul yang dipakai pengarang, yakni Ramadhan Yang Rimbun,
dari hal itu saja telah tergambar bahwa yang akan diceritakan pengarang dalam
puisinya seputar bulan Ramadhan, bulan suci bagi umat islam.

2)      
Perasaan

Puisi
yang berjudul Ramadhan Yang Rimbun  mencerminkan
rasa rindu penyair, keyakinan penyair tentang hikmah dari bulan Ramadhan. Betapa
bulan Ramadhanadalah bulan yang penuh dengan ampunan, segala amal kebaikan akan
mendapat ganjaran yang berlipat ganda, dan begitu banyak hikmah lain yang dapat
kita dapatkan dari bulan Ramadhan ini.

3)      
Nada dan Suasana

Suasana
yang hadir ketika membaca puisi tersebut adalah kesadaran yang mendalam tentang
bulan Ramadhan, apa yang seharusnya kita lakukan pada bulan Ramadhan, dan apa
yang akan kita dapatkan seandainya bulan Ramadhan dijadikan arena perlombaan
dalam kebaikan dan panen amal.

4)      
Pesan

Penulis
berpendapat bahwa amanat yang ingin disampaikan pengarang dalam puisinya adalah
bahwa kita harus senantiasa menjadikan bulan Ramadhan adalah bulan pengembalian
kita pada fitrah dengan ampunan-Nya, sebab di bulan Ramadhan, Tuhan membuka
pintu ampunan selebar mungkin bagi mereka yang benar-benar mau bertaubat dan
menjalankan ibadah dengan sungguh-sungguh.


 

c.       
Nilai Sastra

1)      
Nilai estetik

Nilai estetik dalam puisi Ramadhan Yang Rimbun terlihat dalam penggunaan
kata untuk menghasilkan daya magis yang dapat mengajak pembaca untuk memaknai
kesucian bulan Ramadhan. Dalam tifografi tidak terdapat unsur estetik.

2)      
Nilai kegunaan

Puisi tersebut sangat berguna bagi orang-orang yang belum memahami betapa
suci dan agungnya bulan Ramadhan. Dengan membaca puisi tersebut sedikitnya kita
dapat mengetahui keindahan yang dijanjikan Allah Swt bagi orang yang mencapai
kemenangan di bulan Ramadhan.

3)      
Nilai Kultural

Jelas sekali bahwa puisi di atas merupakan cermin budaya Islam, sebab
menceritakan tentang bulan Ramadhan.

4)      
Nilai moral, religi

Nilai religi menjadi tema utama dalam puisi tersebut, yakni pemahaman
pengarang tentang bulan Ramadhan.

d.       
Kode Sastra

Kode sastra yang terdapat dalam puisi karya sarabunis Mubarok ini adalah:

1)      
Kode Hermeneutik

Kode hermeneutik adalah makan tersembunyi yang hendak disampaikan pengarang.
Seperti dalam judul puisi tersebut: Ramadhan yang Rimbun. Mengapa pengarang
memilih kata rimbun, tidak teduh? Apakah rimbun di sana?. Menurut penadapat
penulis, rimbun di sana adalah pengaruh Ramadhan pada jiwa seseorang.

2)      
Kode
Semantik

Kode semantik terdapat dalam puisi tersebut ditandai dengan kehadiran
metafor.

·         
Inilah bulan madu yang paling teduh.

·         
Ciuman terjernih dari sang kekasih.

·         
Sampai tercapai puncak-puncak kepuasanmu.

·         
Memaniskan bulan yang disulam jarum tajam.

·         
Melengkapkan kasidah yang mengalun di dahan ampunan.

Majas personifikasi terlihat dalam kalimat:

Bunga-bunga mengirim madu lewat kumbang-kumbang-Nya.

3)      
Kode Simbolik

Kode
simbolik ditandai dengan terdapatnya kode-kode simbol dalam puisi tersebut:


 

·         
Bulan madu                            
: bulan Ramadhan

·         
Setubuh                  
: ibadah puasa

·         
Langit luluh                            
: maghrib

·         
Ciuman terjernih     :
perintah menjalankan ibadah puasa

·         
menggaulinya                         
: melaksanakan ibadah puasa

·         
bunga-bunga                           
: keindahan bulan Ramadhan

·         
madu                                      
: intisari, manisnya bulan Ramadhan.

·         
jarum tajam                            
: kehidupan orang miskin


 

4)      
Kode
Budaya

Jelas sekali bahwa puisi di atas merupakan cermin budaya Islam, sebab
menceritakan tentang bulan Ramadhan.


 

3.       
Tanda Matra

RAMADHAN YANG
RIMBUN

Inilah
bulan madu paling indah,/

Setubuh
termesra dari subuh sampai

langit
luluh/. Ciuman terjernih sang kekasih/

yang
memagut ruh-ruh yang shalih//

 

Katakanlah!
/Kau akan menggaulinya

sampai
segalanya cemburu/. Sampai

tercapai
puncak-puncak kepuasanmu

menggeledah
seribu bulan/, melengkapkan

kasidah
yang mengalun di dahan ampunan//


 

Yakinlah!
/Bunga-bunga mengirim

madu
lewat kumbang-kumbang-Nya/

memaniskan
bulan yang disulam jarum

tajam/.
Melengkapkan adzan dengan

sembilan
puluh sembilan nama Tuhan//.

 

2001

 (Sarabunis
Mubarok, Memasuki
Peti Mati
, 2005:27)


 

4.       
a. Aspek yang harus dinilai bagi peserta lomba baca puisi
adalah:

-         
Kepatuhan pada tata tertib

-         
Kostum

-         
Sikap

-         
Pelafalan

-         
Volume suara

-         
Teknik

-         
Penghayatan terhadap puisi yang dibacakan.

-         
Intonasi

-         
Ekspresi


 


 


 

b.       
Format penilaian


Golongan
peserta: ………….
                                                       
Nama juri: ……………..


No. Urut


 


 


 


No.
Pengenal peserta


 


 


Segi
yang dinilai


Jumlah
nilai


 


 


 


Segi
penampilan


 



 


 


Kepatuhan
pada tata tertib


Kostum


 


Sikap


 


Pelafalan


Volume
suara


 


Teknik


Penghayatan


 


Intonasi


 


Ekspresi



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 

Tempat
perlombaan, tanggal, bulan, dan tahun perlombaan

Tanda
tangan juri

…………………..

5.       
Puisi Sebagai Bahan Ajar

a.       
Kriteria bahan ajar

Untuk
memilih puisi yang cocok untuk dijadikan bahan ajar, ada beberapa kriteria yang
harus dipenuhi, antara lain:

1)
Kriteria
keterbacaan puisi

Yaitu
mencakup sukar atau tidaknya bahsa yang digunakan dalam puisi tersebut.

2)      
Kriteria kesesuaian

Kriteria
kesesuaian bermaksud kesesuaian puisi yang di ajarkan dengan objek yang akan
menerima pengajaran mengenai puisi tersebut

               
Meninjau dari kedua kriteria tersebut, menurut pendapat penulis, puisi
tersebut layak untuk dijadikan sebagai bahan ajar, sebab bahasa yang digunakan
tidak terlalu sulit, sehingga dalam menemukan makna yang terkandung di dalamnya
pun tidak terlalu sulit.

b.       
Tingkat sekolah atau siswa

Menurut
pendapat penulis, puisi yang berjudul Ramadhan yang Rimbun ini lebih cocok jika
di ajarkan pada tingkat mahasiswa, sebab di dalam puisi tersebut banyak terdapat
simbol-simbol yang tidak mudah dimaknai oleh siswa-siswa sekolah menengah
apalagi siswa sekolah dasar.

c.       
Langkah-langkah penyajian

Adapun
langkah-langkah mengajarkan puisi adalah sebagai berikut:

1)      
Mempelajari puisi yang akan diajarkan.

Hal ini
penting dilakukan agar guru atau orang yang mengajarkan puisi mempunyai
pegangan, mengetahui bagian puisi mana yang memerlukan penerangan lebih dalam,
dan mengetahui bagian puisi yang memerlukan perhatian khusus,

2)      
Menentukan kegiatan yang akan dilakukan.

Setelah
seorang guru mempelajari puisi yang akan diajarkan tersebut, langkah selanjutnya
adalah menentukan kegiatan yang akan dilakukan di dalam kelas, misalnya guru
menunjuk seorang murid agar membacakan puisi tersebut di depan kelas, dan
lain-lain.

3)      
Memberikan pengantar pengajaran.

Hal ini
dilakukan, agar perhatian murid terfokus pada pelajaran yang akan dilaksanakan.
Hal tersebut sangatlah penting, sebab mempelajari puisi bukanlah hal yang mudah.

4)      
Menyajikan bahan pengajaran

Sesuai
dengan apa yang telah dipersiapkan dalam tahap persiapan, kini guru melaksanakan
kegiatan mengajarkan puisi tersebut pada murid, seperti apa yang telah
direncanakan sebelumnya.

5)      
Mendiskusikan puisi yang telah dibaca.

1 Komentar:

Online Business Shared mengatakan...

Aqu salut ma qmu, masih sekolah tapi dah kreatif abiz...jadi orang sukses ya ku sumpahin

Poskan Komentar

Kritik, Saran dan Komentar sahabat semua, sangat kami harapkan dan Komentar yang tidak ada hubungannya dengan topik akan dihapus. Terimakasih.